HELOINDONESIA.COM - Prabowo Subianto masih sangat ingat hari lahir Pak Harto (almarhum). Prabowo pun bukan hanya ingat tenggal lahirnya, tapi juga wejangan yang pernah dia terima.
Di momen hari lahir Pak Harto, Prabowo menceritakan wejangan dan pengalaman pribadi saat dia dipanggil Pak Harto ke kediaman di Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Saat itu, Prabowo memimpin Batalyon 328 yang akan berangkat untuk tugas operasi di Timor Tinmur.
Prabowo menuliskan pengalaman dan wejangan Pak Harto tersebut di akun Facebook, akun Prabowo Subianto, sekitar 20 jam yang lalu. Dia membuka cerita dengan tanggal ulang tahun Pak Harto.
“Tanggal 8 Juni kemarin merupakan hari lahir dari Jenderal Besar TNI (Purn) H.M. Soeharto, Presiden RI Ke-2. Bagi saya beliau merupakan sosok pekerja keras, sangat disiplin dan teliti,” tulis Prabowo.
Menurut dia, ciri khas beliau lainnya adalah memiliki tulisan yang sangat rapi, daya ingat yang kuat, photographic memory dalam istilah Bahasa Inggris. Beliau juga sangat menguasai angka-angka.
“Satu malam sebelum Batalyon 328 yang saya pimpin mendapat perintah untuk menjalankan operasi di Timor Timur berangkat, saya dipanggil oleh Pak Harto ke kediamannya di Cendana,” kata Prabowo.
“Saya pun menceritakan kepada perwira-perwira saya, bahwa saya dipanggil Presiden, dan mereka pun bergembira. Karena sebuah tradisi di kami, kalau dipanggil Panglima Tertinggi sebelum menjalankan tugas, akan diberi sangu, bekal,” tulisnya.
Menurut Prabowo, dirinya sampai di Cendana sebelum pukul 20.30 WIB. “Setelah beliau lalu bertanya apakah benar saya besok akan pergi untuk menjalankan operasi. Saya pun membenarkan,” tulisnya lagi.
Baca juga: Ingin Tetap di Real Madrid, Modric Digoda Klub Arab Saudi dengan Bayaran Tujuh Kali Lipat Gajinya
Kemudian Pak Harto berkata, “Saya hanya titip tiga hal kepada kamu, Bowo. Ojo lali, ojo dumeh, ojo ngoyo. Paham, mengerti!" pesan beliau,” katanya.
Setelah diriny menyatakan siap, Pak Harto lantas memegang kepala Prabowo, seperti biasa dia lakukan terhadap anak, cucu dan orang yang disayanginya, seraya mempersilakan saya berangkat.
“Selintas saya juga kaget dan kecewa sebelumnya. Karena bukannya diberi sangu, ternyata hanya dibekali tiga nasihat,” ujar Prabowo.
“Namun setelah saya renungkan dalam perjalanan satu jam kembali dari Cendana ke Cilodong, bahwa tiga nasihat tersebut berasal dari seorang Panglima yang tumbuh dan besar dalam operasi pertempuran,” tambahnya.
Baca juga: Tolak AHY Jadi Cawapres Anies, Nasdem Pilih Tokoh NU, Pengamat: Apapun Demokrat Diminta Ikhlas
Dia menjapatkan wejangan singkat yakni wejangan ojo lali ojo dumeh, ojo ngoyo. Meski tadinya kecewa, setelah merenungkan wejangan itu, dia tetap bangga, karena mendapat wejanagan dari seorang Panglima Tertinggi, dengan begitu banyak pengalaman tempr.
“Seorang Panglima dengan segudang pengalaman tempur memberikan wejangan ojo lali ojo dumeh, ojo ngoyo. Tentu itu merupakan pelajaran yang sangat berharga. Apalagi setelah saya artikan, maknanya juga sangat mendalam,” ujarnya.
Prabowo kemudian menjabarkan makna wejangan ojo lali ojo dumeh, ojo ngoyo yang didapat dari Pak Harto tersebut.
“Ojo lali, berarti jangan lupa terhadap semua pelajaran yang engkau terima. Pelajaran dari orang tua, pelajaran agama, pelajaran sekolah dasar, sampai pelajaran militer yang engkau terima,” ujarnya.
Baca juga: Cermati Bahaya Kesehatan Akibat Hipertensi, Bisa Menyebabkan Stroke
Kedua ojo dumeh, jangan sombong. Orang yang sombong biasanya meremehkan musuh, biasanya lengah, biasanya tidak teliti karena dia terlalu percaya diri.
:Ketiga, ojo ngoyo. Jangan memaksakan diri. Jangan memaksakan anak buah. Ada kemampuan. Tapi juga ada batas kemampuan. Kita tidak boleh bernafsu dalam melaksanakan operasi militer,: ujar Prabowo.
Mengingat pentingnya ajaran tersebut, lanjut Prabowo, tiga wejangan Pak Harto itu dia tulis di atas peta di posko setiap melaksanakan operasi militer. Ini menjadi tradisi di Batalyon 328.
“Alhamdulillah dalam operasi, Batalyon 328 mendapat hasil yang sangat baik dan mendapat penghargaan dari Panglima Operasi,” ujar Prabowo.
Penghargaan tersebut antara lain hampir 1 Kompi dari 1 Batalyon mendapat kenaikan pangkat luar biasa berupa sekolah berjenjang tanpa tes Secapa dan Secaba. (*)
(Winoto Anung)
