HELOINDONESIA.COM - Buah srikaya tak hanya memiliki rasa yang khas saja, tetapi buah ini juga bisa dijadikan bahan dasar pestisida nabati.
Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan, tentu saja ini sangat ramah lingkungan, karena tidak mengandung kimiawi.
Pestisida nabati bersifat pukul dan lari yaitu apabila diaplikasikan akan mengendalikan hama pada waktu itu dan setelah terbunuh maka residunya cepat menghilang di alam.
Dengan demikian, tanaman akan cepat terbebas dari residu sehingga tanaman aman untuk dikonsumsi manusia.
Tumbuhan pada dasarnya mengandung banyak bahan kimia yang merupakan poduksi metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat pertahanan dari serangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan).
Oleh karena itu, jika dapat mengolah tumbuhan ini sebagai bahan pestisida maka akan membantu masyarakat petani dalam mengendalian hama, yang ramah lingkungan.
Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik yaitu, merusak perkembangan telur, larva, dan pupa.
Baca juga: Inilah Tujuh Kasus Kebaran Hutan Mendapat Reaksi DPRD Jatim, Belum Diketahui Penyebabnya
Kemudian menghambat pergantian kulit dan enganggu komunikasi serangga, serta menyebabkan serangga menolak makan.
Selain itu juga menghambat reproduksi serangga betina dan mengurangi nafsu makan, sehingga memblokir kemampuan makan serangga.
Pestisida nabati, juga mampu mengusir serangga (repellent), menghambat perkembangan patogen penyakit, serta menarik kehadiran serangga atau atractan (efektif untuk perangkap).
Kemudian pestisida nabati juga menurunkan kepridian dan pengaruh langsung sebagai racun (perut atau sistemik).
Baca juga: Benarkah Kopi Bisa Menghambat Pertumbuhan Tinggi Badan Anak-Anak dan Remaja? Ini Faktanya
Salah satu jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pestisida nabati adalah srikaya.
Penyebutan buah srikaya bermacam-macam, di dunia internasional menggunakan bahasa inggris disebut custard apple, atis, cherimoya, soursop, sweetsop.
Di daerah Aceh disebut delima bintang, Lampung disebut seraikaya, Minangkabau disebut sarikaya, di Sunda bernama srikaya.
Di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan srikaya, orang Madura menyebut sarkaya, orang Dayak menyebutnya dengan sarikaya.
Baca juga: Tekab 308 Pesawaran Kejar Remaja Putri Penipuan Rp1 M Hingga Jatim
Sedang orang Bima Nusa Tenggara Barat (NTB) disebut Garaso, dan orang pulau Timor menyebut Ata, orang Gorontali menyebut sirikaya.
Dan orang Manado menyebut atis, di Bugis Makassar disebut sirikaya, dan orang Halmahera menyebutnya atisi dan atis disebut orang Ternate dan Tidore.
Srikaya dapat dijumpai hampir seluruh wilayah di Indonesia, tanaman ini berasal dari daerah tropis.
Tanaman srikaya banyak ditemukan di dataran rendah hingga ketinggian kurang lebih 800 m dpl.
Ciri-ciri tanaman srikaya yaitu pohon atau perdu, tinggi ± 7 m, dengan batang, berkayu, bulat, bercabang, coklat kotor.
Kandungan kimia di dalam tanaman ini antara lain asetogenin, squamocin, bullatacin, annonacin dan neoannonacin.
Bagian tanaman yang digunakan adalah akar, daun, buah dan biji, cara kerja yaitu senyawa kimia yang terkadung dalam srikaya dapat bersifat sebagai, insektisida, racun kontak, penolak (repellent) dan penghambat makan (antifeedant). **
