Helo Indonesia

Denny Indrayana: Cawe-cawe Jokowi Mencopet Golkar dan Demokrat, Cawe-cawe Telanjang Halalkan Segala Cara

Winoto Anung - Nasional -> Politik
Rabu, 26 Juli 2023 12:22
    Bagikan  
Denny Indrayana,
Foto: tangkapan layar

Denny Indrayana, - Mantan Wamenkumham Denny Indrayana cuma dianggap kentut Bau oleh netizen soal ngoceh mau pecat Presiden Jokowi.

HELOINDONESIA.COM - Profesor Denny Indrayana kembali mengkritik Presiden Jokowi. Kali ini terkait goyangan di Partai Golkar dan diperiksanya Airlangga Hartarto oleh Kejaksaan Agung.

Denny menyebut ada cawe-cawe  Jokowi di sana. Deny menyinggung pula cawe-cawe kepada Demokrat dan penjegalan Anies Baswedan.

Kritikan Denny Indrayana itu dituangkan dalam tulisan bertajuk Ketelanjangan Politik Jokowi Harus Dilawan, diunggah di akun Twitter @dennyindrayana. Deia menulis dengan memulai bahwa Makin mendekati waktu Pilpres 2024, situasi politik kita makin menggelisahkan, tidak jarang memuakkan!

“Ini suara hati saya, yang mungkin juga mewakili entah berapa banyak rakyat Indonesia. Saya akan menyuarakan dengan pilihan diksi yang lantang dengan teriakan yang nyaring. Meskipun, berisiko dikasuskan alias dijerat masalah kriminal sekalipun,” ujarnya.

Baca juga: Pengamat Politik UI : Momen Prabowo Sopiri Erick dan Jokowi Hanya Sebatas Pekerjaan

Biarlah sejarah yang akan mencatat, lanjutnya, dan membuktikan, bahwa saya dan beberapa sahabat terus ikhlas berjuang untuk Indonesia yang lebih terhormat, lebih bermartabat, lebih antikorupsi!

Tingkah-polah segelintir elit politik hanya mempertontonkan panggung sandiwara politik, tanpa substansi kebangsaan, tanpa etika-moralitas politik yang ber-Pancasila. Hukum hanya diperalat, untuk syahwat kuasa! Ini yang sebenarnya: "Kampungan"!

Denny mengungkapkan, ada rekannya berkirim WA (WhatsApp) yang bicara soal isu Munaslub di Partai Golkar (PG)  dan kemudian dia mengomentari kiriman WA dari rekannya tersebut.

Baca juga: Di Arab Siswi Lepas Hijab, di Sini jadi Modus Cari Cuan Oknum Pendidikan Sekolah Negeri Paksa Jual Seragam

Menurut dia, mengomentari Ketum Golkar Airlangga Hartarto, yang diperiksa Kejaksaan Agung selama belasan jam, seorang petinggi "Partai Beringin" membalas pesan WA saya:

 "Ini sih Drakor (Drama Korea), Den. PG Juga mau dicopet, lebih mudah nyopet PG dibanding  Demokrat. Ada LBP dan Bahlul orang dalamnya".

“Lagi, hukum hanya dipermainkan. Saya tidak ragu menegaskan yang paling bertanggung jawab adalah: Presiden Jokowi,” tulis Denny di Twitter.

Baca juga: Ganjar Turun ke Desa untuk Pastikan Program Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Berjalan

“Kenapa lagi-lagi harus Presiden? Karena mandat bahwa iklim politik, hukum, Pemilu 2024 harus dilaksanakan secara jujur dan adil, adalah salah satu tanggung jawab utama Presiden Jokowi,” lanjutnya.

DIa menjelaskan, Presiden adalah Kepala Negara, selain kepala pemerintahan. Presiden juga faktanya pimpinan koalisi partai pemerintahan, baik di eksekutif maupun di legislatif (parlemen).

“Maka, bohong besar jika Presiden Jokowi tidak tahu-menahu dan tidak ikut campur soal kasus hukum. Jaksa Agung sebelum memeriksa Menko ataupun Menteri, pasti, saya katakan PASTI, berkomunikasi dengan Presiden Jokowi,” kata Denny Indrayana.

Baca juga: Kritik Keras, Hampir 200 Kasus Korupsi di Kementerian BUMN. Tapi Erick Thohir Lebih Sibuk Cari Tiket Cawapres

Demikian juga KPK. Baik Kejaksaan, Kepolisian, KPK, sekarang semua berada di bawah kendali politik Presiden Jokowi.

Maka, fakta politiknya, lanjutnya, kasus hukum berlanjut atau tidak, ibaratnya, cukup tergantung pada anggukan kepala atau bahkan hanya kedipan mata Presiden Jokowi. Serta, menjelang Pilpres 2024, Presiden Jokowi dengan jelas menunjukkan cawe-cawe yang negatif-destruktif.

Mengkasuskan lawan-oposisi sambil melepas-bebaskan kawan-koalisi. Kalau, ada kawan koalisi yang dianggap tidak sejalan dengan strategi Pilpres 2024, maka dapat dipastikan muncullah kasus hukum.

Baca juga: Soal Nama Jaklingko Dirubah Jadi Mikrotran, Heru Budi Dikritik Tak Peduli Aspek Budaya

“JANGAN SALAH, saya mendukung setiap langkah penegakan hukum, apalagi kasus korupsi. Tetapi saya menolak tegas penegakan hukum yang pilah-pilih! Penegakan hukum yang menyasar hanya pada "musuh politik" saja, harus ditolak dan dilawan!” ujar Profesor yang kini mukim di Australia itu.

Menurut dia, penegakan hukum harus sama efektifnya dilakukan kepada siapapun yang melakukan kejahatan, tanpa pandang bulu, tanpa diskriminasi karena perbedaan sikap, pilihan, ataupun strategi politik.

“Saat ini, hukum hanya menjadi alat dan intrik politik. Kita harus tegas menolaknya! Bahwasanya dalam politik ada strategi alias intrik untuk menang, itulah pragmatisme politik,” ujarnya.

Baca juga: Kritik Keras, Hampir 200 Kasus Korupsi di Kementerian BUMN. Tapi Erick Thohir Lebih Sibuk Cari Tiket Cawapres

Tapi, kita juga harus meneriakkan tegas bahwa dalam politik tetap saja ada etika, ada idealisme, yang tidak menghalalkan segala cara. Kemenangan bukan harus diraih dengan apapun caranya, bahkan dengan politik uang ataupun politik curang.

Kemenangan politik dan pemilu harus tetap diraih dengan kehormatan, kebenaran, dan keadilan.

“Cawe-cawe Jokowi yang mencopet Demokrat, mencopet Golkar, mengganggu koalisi KPP, menjegal Anies Baswedan dll, adalah cawe-cawe telanjang yang tidak beretika, tidak berlandaskan moral politik. Cawe-cawe Jokowi dan kroni oligarkinya, yang menghalalkan segala cara berpolitik haram yang demikian,” tulis Denny.

Baca juga: Kisah Petani Garam di Kaliori, Nasukha Sandarkan Diri pada Terik Matahari Bulan Juli

Dia mengatakan, cawe-cawe Jokowi dan kroni oligarkinya, yang menghalalkan segala cara berpolitik haram yang demikian, sambil berbohong bertindak berpura-pura mencitrakan diri sedang memikirkan bangsa dan negara, adalah cara berpolitik yang telanjang tanpa etika-moral, dan karenanya harus dibongkar dan dihinakan.

“Ayo sama-sama kita teriakkan lantang bahwa Presiden Jokowi sebenarnya sedang mengumbar aurat pakaian politik yang telanjang, meskipun katanya, approval rating survei memotret Jokowi didukung 90% responden sekalipun,” ujar dia.

Kebenaran harus disuarakan, bahkan meskipun sendirian. Demi Indonesia yang sama-sama kita cintai dan harus kita jaga dari cara-cara berpolitik telanjang penuh dusta dan cawe-cawe yang senyatanya demi dinasti dan bisnis kroninya, jauh dari demi "untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat" Indonesia. (*)

(Winoto Anung)