HELOINDONESIA.COM - Hampir tiap Minggu lembaga-lembaga survei membuat polling untuk mengukur elektabilitas dan keterkenalan capres dan cawapres.
Tak cuma itu, lembaga-lembaga survei itu juga melakukan survei terkait berapa persen responden memilih partai-partai politik.
Dalam survei capres-cawapres, tiga kandidat selalu ada. Namun tiap lembaga survei berbeda dalam menghasilkan elektabilitas capres dan cawapres.
Baca juga: Pecco Bagnaia Raih Podium Tertinggi di MotoGP Italia, Duo Marquez Crash
Kalau tidak Ganjar Pranowo diurutan teratas, Prabowo kedua. Begitu juga sebaliknya survei yang digelar lembaga lain.
Namun ketiga lembaga itu sepertinya sepakat bahwa Bacapres Anies Baswedan selalu mendapat urutan buncit.
Pegiat media sosial dan pengamat politik Rocky Gerung menyebut semua lembaga survei banyak tipu-tipu.
Baca juga: Jamur, Kunci Kendali dalam Mengatasi Masalah Hipertensi
Bahkan hasil yang dirilis lembaga-lembaga survei itu merupakan pesanan dan tidak gratis.
Dalam sebuah tayangan video berdurasi 48 detik di media sosial Snack, Rocky Gerung mengungkapkan, dulu lembaga survey hanya satu.
Namanya Lembaga Survey Indonesia (LSI) yang dibiayai dari World Bank untuk membackup demokrasi.
"Nggak ada yang bayar di situ. Nah karena ini uang dunia. Uang world bank dari lembaga. Maka berternaklah tokoh-tokoh yang ada sekarang nipu," ungkap Rocky Gerung dalam video, yang dikutip, Minggu (11/6/2023).
Padahal, lanjut Rocky, sudah digaji.eh dia didalam lembaga yang sudah digaji itu bikin survei lembaga sendiri.
"Semua lembaga survei yang ada sekarang itu urusannya tipu menipu, saling titip kuesioner karena itu mirip-mirip aja," sindir Rocky.
Baca juga: Desa Wisata Besani Batang, Usung Konsep Akulturasi Jawa-Cina dan Lolos Terbaik ADWI 2023
Dia membeberkan, jadi selama bahwa itu tidak bisa dibuktikan lembaga itu dibiayai oleh publik, nggak mungkin bener.
"Tapi jika nanti mereka bilang ini uang sendiri untuk kepentingan publik, yang jadi pertanyaan dari mana untungnya kalau uang sendiri," pungkasnya.
Irvan S.
