Oleh Prof. Sudjarwo*
SAHDAN, dalam Perang Baratayudha, kekuatan Korawa ada pada Bagawan Drona. Lawannya, Pandawa memiliki tokoh ulung pengatur strategi bernama Kresna. Sang kesatria bisa “membaca”, bahwa untuk melumpuhkan Korawa harus dihabisi terlebih dahulu Bagawan Drona.
Siasatnya, Kresna meminta Pandawa menyebarkan hoaks, berita bohong, bahwa Bima berhasil membunuh Aswatama. Walau, faktanya, yang dibunuh Bima, gajah bernama Hestitama.
Jika Bagawan Drona mengkonfirmasi kabar kematian Aswatama, kakak kandung Bima, yaitu Prabu Yudistira juga ditugaskan menjawabnya karena dikenal sebagai ksatria Pandawa yang amat jujur dan berbudi pekerti paling luhur.
Baca juga: Kapolres Mesuji Pimpin Langsung Simulasi Sispamkota Pengamanan Pemilu 2024
Seumur-umur, dia tidak pernah berbohong. Jangankan berbohong, menyakiti binatangpun, dia emoh. Yudistira bertutur kata santun, amat penyabar, karakternya berbeda 180 derajat dengan Bima.
Di seluruh jagat Kerajaan Astina Raya, Yudistira merupakan ksatria yang amat dikagumi dan sangat dipercaya. Namun demi memenangkan suatu peperangan, terpaksa berbohong. Kresna tahu bahwa Bagawan Drona pasti akan bertanya kepada Yudistira.
Benar saja, begitu Bagawan Drona mendengar khabar tentang kematian Aswatama, anak kesayangannya, seluruh sendi Bagawan Drona menjadi lemas, kesaktiannya seakan lenyap.
Dia lantas ingin memastikan khabar tersebut benar atau salah dengan bertanya kepada ksatria yang dia anggap “tidak mungkin” berbohong, yaitu Yudistira.
Baca juga: Politik Makin Hot, Baleho Ganjar dan Frans Jadi Korban Sabotase di Balam
Sang Ksatria, sesuai dengan permintaan Kresna, hanya menganggukkan kepala ketika mantan guru besarnya, Bagawan Drona, bertanya dan hanya dijawab anggukan oleh Yudistira. Bagawan Drona mengartikan anggukan itu sebagai kebenaran berita kematian Aswatama.
Akibatnya fatal, Bagawan Drona akhirnya dengan mudah dapat dibunuh oleh Drestadyumena. Kematian Bagawan Drona karena ulah “kebohongan publik”
Di negeri lain, strategi politik Perang Baratayudha sepertinya terulang lagi. Para pembesar negeri terdengar kabarnya tak akan cawe-cawe suksesi pemilihan para kasatrian negeri. Keluarganya tidak akan ikut kontestasi pemilihan adipati.
Namun, diam-diam, Kresna mengatur agar tidak ada calon adipati lain yang maju. Setelah matang, dengan gagah perkasa Sang Pembesar mengatakan “
demi keberlangsungan kehidupan kadipaten, anak-anaknya dikerahkan jadi Adipati.
Baca juga: Baleho Bacaleg DPR RI Frans Agung Mulaputra Dihancurkan OTK
Ketidakwajaran yang dibuat terlihat wajar walaupun dengan cara kurang ajar demi menyelamatkan “trah politik”. Semua itu belum cukup, ternyata ada “peta jalan menuju singgasana” telah disiapkan secara rinci, rapi, walaupun kita yang membaca menjadi geli.
Karena Sang Pembesar tidak hanya level kadipaten yang dijadikan tujuan; akan tetapi justru singgasananya sendiri dijadikan tujuan. Permaisuri yang tampak anggun, lugu, sedikit ndeso diminta untuk menjadi Puntadewa agar "Sang Putra Mahkota" mengikuti kehendak ayahnya dengan hanya menganggukkan kepala memberi restu.
Maka peraturanpun yang ada di Mahkamah Kerajaan sebagai juru putus yang bersifat final suatu perkara, diubah dengan sangat cantik menjadi Mahkamah Keluarga.
Tampak dari luar, apalagi dari jauh, putusan-putusan yang diambil dari Mahkamah Kerajaan sangat murni tanpa campurtangan Petinggi Negeri. Namun yang dilakukan cukup “campur mata”; sehingga kerlingan dapat dimaknai sebagai kata sandi yang dikirim dari jarak yang cukup jauh.
Baca juga: Daftar ke KPU, Ganjar - Mahfud Naik Truk Logistik Sambil Sapa Ribuan Pengantar
Pertanyaan tersisa, mau dibawa kemana negeri ini, jika pemimpinan semula mengatakan “tidak”, kemudian berubah sekonyong-konyong menjadi “Iya”; karena itu menyangkut syahwat berkuasa untuk membangun dinasti.
Tidak ada yang salah, dan tidak ada peraaturan formal yang dilanggar, namun azaz kepatutan sebagai manusia norma, tentunya referensi kehidupan yang harus selalu dijadikan rujukan.
Sejauh ini, kita masih mau dikatakan normal. Kecuali kenormalan yang kita sandang itu kita ingkari sendiri keberadaannya.
* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung.
