Helo Indonesia

Menciptakan Budaya Positif dalam Belajar

Ajie - Lain-lain
Rabu, 18 Oktober 2023 23:44
    Bagikan  
Nika Dewi Indriati
Nika Dewi Indriati

Nika Dewi Indriati - Nika Dewi Indriati

Oleh: Nika Dewi Indriati

Sebut saja Riska nama salah seorang siswi di salah satu sekolah kejuruan yang pernah penulis kunjungi saat momen seminar guru dalam forum MGMP. Wajahnya cantik keluar dari mulutnya lembuat berucap salam diiringi senyum dan menyapa penuh akrab, berikutnya ia mempersilahkan penulis untuk berjalan menuju sebuah ruang tempat pertemuan berlangsung.

 Kesannya sederhana, hanya berucap salam senyum dan menyapa, tidak disangka oleh penulis bahwa siswi tadi, sedang menerapkan konsep 3S yang menjadi bagian dari implementasi visi dan misi sekolahnya yang sedang dikembangkan sebagai icon sekolah. Sungguh sangat mengesankan.

Baca juga: Jeli Tangkap Peluang, Shuttlecock Batang Sukses Pegang Pasar ASEAN dan Jepang

 Di momen lain, ketika penulis istirahat untuk izin ke belakang berpapasan dengan salah seorang guru yang menanyakan dengan bahasa sangat halus, “Selamat siang Ibu, ada yang perlu saya bantu?’, Berikutnya ia mengantarkan ke salah satu kamar kecil dan mengakhirinya dengan senyum berpamitan.

Penulis menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh seorang siswi dan kemudian seorang guru tersebut adalah bagian dari perilaku, cara hidup yang dilakukan oleh sekelompok manusia yang dengan pemahamannya ia mampu mengembangkan dirinya untuk beradaptasi dengan lingkungannya.

 Menurut Kamus Bahasa Indonesia, cara hidup sekelompok manusia yang telah berkembang melalui akal budi, itulah yang disebut budaya. Budaya untuk menyapa, budaya untuk selalu tersenyum ketika bertemu dengan orang lain, budaya untuk memberikan salam, budaya untuk selalu berbahasa yang baik -- adalah contoh dari budaya positif.

 Budaya positif yang dilakukan lintas generasi dan menjadi kebiasaan sekelompok manusia, dan menjadi pedoman sesama, serta menjadi wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dalam kehidupan bersama, dalam sebuah komunitas serta menjadi contoh bagi manusia lain adalah bagian dari makna mendasar -- sebuah kebudayaan.

 Berperilaku positif yang menjadi sebuah kebiasaan atau tradisi dan menjadi budaya adalah esensi dari filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Ing Ngarso Sung Tulodo menekankan pada keteladanan, siapapun di manapun pada waktu kapan pun selalu memberikan contoh yang baik.

Baca juga: Pengasuh dan Pengurus Ponpes di Kendal Ikuti Halaqah Pesantren

Berikutnya Ing Madyo Mangun Karso adalah spirit menciptakan ide-ide atau gagasan-gagasan baru yang mendukung pada perilaku positif dalam sebuah proses belajar memahami kehidupan yang hakiki. Proses ini memberikan stimulus seseorang untuk termotivasi dirinya untuk melakukan sesuatu yang lebih baik selaras dengan Tut Wuri Handayani.

 Ketika seseorang menggambarkan sebuah kondisi sejak lahir yang dipengaruhi oleh kultur budaya dan lingkungan tempat dia berada merupakan kondisi kodrati atau Ki Hajar menyebutnya Kodrat Alam, sedangkan perubahan yang terjadi dalam suatu lingkungan pada kurun waktu tertentu itulah yang dimaknai dengan Kodrat Zaman, maka seseorang berhak untuk mendapatkan pendidikan yang merdeka atau dikenal dengan konsep Merdeka Belajar (dalam konteks kekinian) yakni cara bagaimana menyesuaikan antara kodrat alam dan kodrat zaman itu secara tepat dan berimbang.

 Inilah yang kemudian Ki Hajar Dewantoro dengan Asas Trikon yaitu kontinuitas, konvergensi dan konsentris -- menjadi prinsip perubahan yang dapat kita lakukan dalam mewujudkan transformasi pendidikan bagi anak-anak kita.

Dalam konteks keindonesiaan, ragam budaya masyarakat Indonesia yang multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang dalam bahasa sederhana dipahami bahwa suatu kebudayaan menekankan penerimaan terhadap -- realitas keagamaan, -- pluralitas dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat.

Budaya Positif di Sekolah

Upaya menciptakan budaya positif di sekolah harus dimulai dari pemahaman diri sendiri dan kemudian berpolarisasi pada teman sejawat tentang keyakinan kelas, lima posisi kontrol dan penerapan segitiga restitusi. Penyebaran ini di lakukan dengan metode persuasif (empat mata) sehingga nantinya penerapan disiplin positif bisa dimulai dari diri sendiri dan teman sejawat dan kemudian merambah pada warga sekolah, dengan tujuan dapat menumbuhkan budaya positif yang termotivasi dari dalam sehingga membentuk karakter murid yang berprofil Pancasila.

 Upaya mewujudkan budaya positif juga harus dimulai dengan :

Pertama, Disiplin Positif, pendekatan untuk menuntun anak agar berdaya mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai kabajikan. Disiplin positif merupakan komponen utama dalam mewujudkan budaya positif.

Kedua, Teori control, pada dasarnya yang bisa mengontrol seseorang adalah seseorang itu sendiri. Seseorang bisa melakukan sesuatu atau tidak tergantung pada diri seseorang sesuai dengan motivasi pemenuhan kebutuhan dasar dan setiap kebutuhan dasar seseorang itu berbeda.

Baca juga: Ciptakan Pelayanan Prima, RSUD Kendal Diskusi Bersama Awak Media dan LSM

Ketiga, Teori Motivasi, setiap perilaku manusia memiliki tujuan dan motivasi. Motivasi bisa berasal dari eksternal dan internal. Motivasi yang berasal dari eksternal bertujuan untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman dan atau untuk mendapatkan imbalan/penghargaan. Sedangkan untuk motivasi yang berasal dari internal bertujuan untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya

Dan poin dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi yang berasal dari internal yang nantinya akan menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya, sehingga mareka akan sadar dengan keyakinan mereka sendiri dan tidak terpengatuh pada ketidaknyamanan, hukuman, imbalan atau penghargaan.

Keempat, Hukuman dan penghargaan,pada dasarnya hukuman dan penghargaan itu sama, hanya hukuman lebih ke arah cara mengontrol perilaku murid pada hal negatif sedangkan penghargaan adalah cara mengontrol perilaku murid pada hal positif.

 Kelima, ada lima posisi kontrol guru yaitu: penghukum, pembuat merasa bersalah, teman, pemantau, dan manajer.

Hal lainnya adalah restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka dengan karakter yang kuat.

 Lalu bagaimana proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah? Tentunya harus berkolaborasi dengan semua pihak agar bisa mendukung dan menciptakan budaya positif. Kolaborasi bisa berbentuk komunikasi intens dengan kepala sekolah, teman sejawat, wali murid dan sebagainya. Komunikasi tersebut juga berbentuk persamaan persepsi antara semua warga sekolah sehingga bisa jadi satu visi dan misi dalam menciptakan budaya positif.

 

Penulis, pemerhati Pendidikan, Calon Guru Penggeraka SMK Negeri 6 Semarang