SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Dalam lautan informasi digital yang terus berkembang, media sosial (medsos) telah menjadi tonggak penting bagi berbagai profesi, termasuk dokter, untuk menyampaikan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, suara yang mempertanyakan peran praktisi medis sebagai influencer di ranah online semakin terdengar.
Baru-baru ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menetapkan larangan bagi dokter untuk menjadi influencer di media sosial, terutama dalam konteks memromosikan produk.
Baca juga: Arak-arakan Gunungan dan Penanaman Pohon Aren Warnai Bersih Sumber Owabong
Menurut laporan CNN pada 5 Maret 2024, langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya aktivitas dokter-influencer yang sering kali memromosikan produk kecantikan atau kesehatan di platform-medsos,
Dokter Djoko Widyarto JS DHM MHKes, Ketua Majelis Kehormatan Etik Dokter (MKEK) IDI, menegaskan bahwa hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip etika dokter dalam bermedia sosial, dimana dokter tidak diperbolehkan untuk beriklan, terutama jika iklan tersebut berkaitan dengan klaim penyembuhan, kecantikan, dan kebugaran.
IDI tetap memberikan ruang bagi dokter untuk beriklan yang berkaitan dengan layanan masyarakat atau yang mempromosikan perubahan perilaku hidup sehat. Namun, dokter yang memanfaatkan media sosial juga diingatkan untuk menjaga kerahasiaan informasi kesehatan pasien dan memisahkan akun pribadi dengan akun profesional.
Baca juga: Resep Menu Sahur Berbahan Tempe Sederhana Tapi Enak!
Dalam sebuah diskusi siaran langsung di saluran Instagram Unlimited Talks @Unik_oke, 8 Maret 2024 lalu, dr Teuku Adifitrian (dikenal sebagai dokter Tompi), dr Indra Adi Susianto, MSiMed, SpOG, komisaris RSIA Anugerah, dan dr Irwin Lamtota MKed(OG) SpOG, menyuarakan pendapat mereka mengenai hal ini.
Dokter Tompi menekankan perlunya peraturan yang adaptif. Baginya, dokter perlu lebih terbuka terhadap kemajuan dan perubahan, sambil menjaga etika dan profesionalisme.
‘’Di era sekarang adalah era informasi, semua orang pada browsing. Kalau nggak ada ketersediaan informasi, nanti bisa keliru. Apa yang dikerjakan dokter nggak ketangkap radar. Pemikiran konservatif yang terlalu kaku harus mulai dikurangi, belajar, bahwa hidup itu berkembang. Keberadaan dokter influencer, dilarang jangan, diatur iya. Tapi diatur, harus masuk akal. Bahwa harus ada etika dan tata cara sejauh mana diperbolehkan dari profesi sebagai dokter,’’ kata penyanyi itu.
Baca juga: Sajian Sahur Telor Dadar Padang, Ini Bahan dan Cara Membuatnya
Dokter Indra menambahkan bahwa dokter harus memahami batasan-batasan dalam bermedia sosial, namun tetap menjaga keberadaan mereka dalam menyampaikan informasi dan edukasi kesehatan.
Dokter Irwin menyoroti pentingnya integritas dan etika dalam praktik dokter, khususnya dalam konteks memasarkan produk. Baginya, dokter-influencer yang mempromosikan produk harus menjaga standar etika yang tinggi dan memastikan bahwa produk yang direkomendasikan sesuai dengan standar medis yang berlaku.
Meskipun pandangan ketiga dokter ini beragam, satu hal yang jelas adalah pentingnya mempertimbangkan dampak dan tanggung jawab yang melekat pada peran seorang dokter, terutama di era digital ini.
Larangan dari IDI mungkin menjadi langkah awal dalam membuka diskusi lebih lanjut tentang peran dokter dalam media sosial, dengan tetap mematuhi etika dan prinsip-prinsip profesi medis. Sementara regulasi diperlukan, penting juga untuk memperhatikan evolusi kebutuhan dan dinamika masyarakat modern.
Peran Dokter di Medsos
Secara keseluruhan, media sosial memainkan peran yang sangat penting dalam memfasilitasi komunikasi, edukasi, dan kolaborasi di antara para dokter, serta dalam menyebarkan informasi kesehatan yang akurat dan dapat dipercaya kepada masyarakat luas.
Baca juga: Baik Dikonsumsi Saat Sahur dan Buka Puasa, Berikut 8 Manfaat Kurma untuk Kesehatan
Beberapa peran aktif yang bisa dimainkan dokter di media sosial, di antaranya :
Pertama, Penyuluhan Kesehatan. Medsos memungkinkan dokter untuk menyebarkan informasi kesehatan kepada masyarakat secara lebih luas dan cepat. Mereka dapat memberikan tips kesehatan, informasi tentang penyakit tertentu, atau menjawab pertanyaan masyarakat tentang kesehatan melalui platform seperti Instagram, Facebook, atau Twitter.
Kedua, Pengedukasi Masyarakat. Dokter dapat menggunakan medsos sebagai sarana untuk memberikan edukasi tentang kondisi medis tertentu, prosedur medis, atau gaya hidup sehat kepada masyarakat. Mereka dapat membagikan artikel, video, atau infografis yang informatif dan mudah dipahami oleh publik.
Ketiga, Membangun Kredibilitas Profesional. Aktivitas dokter di media sosial dapat membantu memperkuat kredibilitas profesional mereka. Dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bidang kesehatan, dokter dapat memperoleh pengakuan sebagai ahli di bidang mereka dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan pasien dan masyarakat.
Baca juga: Nonton Drama Korea The Midnight Studio Episode 2 Sub Indo
Keempat, Komunikasi dengan Pasien. Media sosial menyediakan saluran komunikasi tambahan antara dokter dan pasien. Pasien dapat mengajukan pertanyaan, membagikan pengalaman, atau mencari saran kesehatan melalui platform ini, yang dapat membantu meningkatkan keterlibatan pasien dalam perawatan mereka.
Kelima, Networking dan Kolaborasi. Media sosial juga memungkinkan dokter untuk berinteraksi dan berkolaborasi dengan sesama profesional medis, baik secara lokal maupun internasional. Mereka dapat berbagi pengetahuan, pengalaman klinis, atau menemukan peluang untuk penelitian bersama melalui platform ini. (Aji)
