HELOINDONESIA.COM - Sebulan setelah pesawat antariksa Jepang jatuh di permukaan bulan, NASA berhasil menemukan puing-puing pesawat yang membuktikan ada benturan keras saat pesawat antariksa itu mendarat di bulan.
Pesawat ruang angkasa yang didanai swasta, yang disebut dengan nama HAKUTO-R Mission 1, diluncurkan oleh perusahaan Ispace, 11 Desember 2022. Pesawat itu ditargetkan mendarat di kawah Atlas bulan pada 25 April. Tim Ispace mengatakan dalam rilis beritanya bahwa kecepatan pendaratan meningkat seketika pesawat mendekati bulan. Tak lama kemudian, pesawat kehilangan kontak dengan Mission Control di bumi.
"Berdasarkan ini, telah ditentukan bahwa ada kemungkinan besar pesawat itu akhirnya melakukan pendaratan keras di permukaan Bulan," kata Ispace dalam siaran persnya kala itu.
Baca juga: Kurangi Emisi Karbon di Udara, Prancis Keluarkan Larangan Penerbangan Domestik Jarak Pendek
Pada tanggal 26 April, Lunar Reconnaissance Orbiter NASA, sebuah pesawat ruang angkasa robotik yang mengorbit bulan dan memiliki kamera yang menyediakan peta topografi permukaan bulan, menangkap 10 gambar di sekitar lokasi pendaratan Hakuto-R1. Gambar-gambar itu, bersama dengan gambar yang diambil sebelum pendaratan, membantu tim peneliti mulai mencari serpihan pesawat di wilayah seluas 28 kali 25 mil.
Tim kamera dapat mengidentifikasi apa yang disebut NASA sebagai "perubahan permukaan yang tidak biasa" di dekat tempat pendaratan seharusnya berakhir.
Foto yang diambil oleh pengorbit menunjukkan empat potongan puing yang menonjol dan beberapa perubahan di permukaan bulan, termasuk beberapa perubahan yang dapat mengindikasikan kawah kecil yang terbentuk akibat benturan.
Foto-foto itu hanyalah langkah pertama dalam proses penyelidikan, kata NASA. Temuan itu akan dianalisis lebih lanjut selama beberapa bulan mendatang. Mereka juga akan melakukan pengamatan lebih lanjut terhadap situs tersebut dalam kondisi pencahayaan yang berbeda dan dari sudut pandang lain.
Baca juga: Dengan Teknologi Canggih Ini, Pria yang 12 Tahun Lumpuh Kini Bisa Berjalan Kembali
Ispace memiliki rencana lebih lanjut untuk meluncurkan misi lain ke bulan. Takeshi Hakamada, pendiri dan CEO Ispace, mengatakan kepada CBS News, sebelum peluncuran yang gagal itu, misi Ispace sebenarnya adalah membantu mengembangkan ekonomi bulan dan menciptakan infrastruktur yang akan menambah program Artemis NASA dan mempermudah akses ke permukaan bulan.
Program eksplorasi bulan perusahaan mencakup pendarat lain, yang dijadwalkan membawa penjelajah lain ke bulan pada tahun 2024. Misi ketiga sedang direncanakan. Hakamada mengatakan kepada CBS News bahwa jika memungkinkan, tujuannya adalah untuk mengatur transportasi frekuensi tinggi ke permukaan bulan untuk mendukung misi ilmiah, misi eksplorasi, dan juga misi demonstrasi teknologi.
"Kami berencana untuk sering menawarkan misi ke permukaan bulan. Setelah 2025, kami berencana menawarkan dua hingga tiga misi per tahun.," kata Hakamada lagi.
