Helo Indonesia

Tradisi Dhukutan di Tawangmangu, Wujud Syukur Atas Keberkahan dan Penghormatan pada Leluhur

Kamis, 4 Juli 2024 15:58
    Bagikan  
Tradisi Dhukutan di Tawangmangu, Wujud Syukur Atas Keberkahan dan Penghormatan pada Leluhur

Prosesi memanjakan doa di situs Kiai dan Nyai Menggung, iring-iringan sesaji dan tawuran adalah bagian dari ritual Dhukutan di Lereng Gunung Lawu. Foto-foto: dok wagubudoyo

KARANGANYAR, HELOINDONESIA.COM - Mengeksplor Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, kita banyak menjumpai budaya yang menggambarkan kearifan lokal. Salah satunya tradisi sesaji Dhukutan di Dusun Nglurah, Kelurahan/Kecamatan Tawangmangu yang baru saja berlangsung pada Selasa 2 Juli 2024 lalu.

Tradisi membawa sesaji dan uba rampe hasil bumi ini di lereng Gunung Lawu ini telah turun temurun. Dhukutan telah menjadi ikon di Tawangmangu, dan sejak 2021 lalu menjadi Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbudristek. Sebagai wisata budaya, Dhukutan juga masuk dalam Calender of Event di Disporapar Jawa Tengah.

dhukutan sesaji

Di Nglurah, ritual yang dalam budaya Nusantara disebut bersih desa atau sedekah bumi ini rutin digelar tiap Selasa Kliwon di wuku Dukut (kalender Jawa) atau wuku ke-29 dari 30 wuku yang dikenal masyarakat Jawa. Kegiatan ini melibatkan warga dusun, mulai anak-anak, kaum muda, hingga orangtua dari warga wilayah pedukuhan yakni Nglurah Lor (Utara) dan Nglurah Kidul (Selatan).

Baca juga: Talek Cimande Diabadikan dalam Prasasti sebagai Warisan Budaya

Sebelum pelaksanaan Dhukutan pada 1 Juli 2024 digelar Jagong Gandik. Gandik adalah makanan tradisional dari Nglurah yang hanya ada saat upacara Dhukutan. Bahannya terbuat dari olahan jagung, tepung dan kelapa.

Seperti diungkapkan budayawan dari Tawangmangu, Sugeng Sularjo, titik kumpul tradisi Dhukutan dimulai dari sebuah sanggar yang berisi sesaji utama dan disebut Tinon. Dari sini selanjutnya iring-iringan pun dimulai dengan barisan terdepan yaitu warga berpakaian serba hitam menyerupai prajurit dengan kostum hancinco, dan salah satunya membawa tungku dengan api yang menyala.

Di belakangnya mengikuti warga perempuan dengan tampah dari pelepah daun pisang. Isi sesaji sama, yaitu tungku berisi bara api dan kemenyan, aneka bunga, jajan pasar, hasil bumi, nasi jagung, gudangan,dan kendi berisi air sendang.

Baca juga: Curug Sewu Kendal Suguhkan Spot Wisata Alam Curug Pelangi di Pagi Hari

Dia mengatakan, dari perspektif budaya Jawa, mereka membawa sesaji sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang dipeoleh. Tanah, udara, api, dan bumi tempat berpijak adalah karunia yang harus disyukuri. Caranya dengan mengumpulkan sebagian hasil panen seperti jagung, ketela, ubi, pisang, dan aneka sayuran untuk berbagi bersama.

''Dalam filosofi Jawa, buah yang dibawa warga merujuk pada empat hal yaitu pala gumantung (buah yang tergantung di pohon), palawija (tanaman pengganti padi), pala kesimper (buah yang merambat), dan pala kependhem (buah yang tertanam di tanah). Itu juga simbol siklus kehidupan dari masa kanak-kanak, dewasa hingga tutup usia. Wiwit kuncung nganti gelung (dari bayi hingga dewasa),'' beber pimpinan Sanggar Waton Guyub Budoyo kepada heloindonesia.com, Rabu 3 Juli 2024.

Arak-arakan pembawa sesaji ini menuju ke Candi Menggung sebagai muaranya. Candi ini oleh masyarakat setempat, diyakini bahwa leluhur mereka, Kyai dan Nyai Menggung, bersemayam di punden itu. Mereka pun memberikan penghormatan kepadanya. Altar yang ada di sana simbol leluhur yang awalnya saling memusuhi berakhir dengan perdamaian.

Sesampai di Candi Menggung, para warga memanjatkan doa atas keberkahan dan keselamatan yang diterima. Upacara doa ini dipimpin oleh pinisepuh.

Prosesi Tabur

Bagian yang paling ditunggu-tunggu dalam tradisi Dhukutan ini adalah saat prosesi tabur atau tawuran. Sesi tawuran ini terjadi ketika sesaji sudah selesai didoakan oleh seorang pinisepuh di area situs Menggung.
Namun tidak semua orang bisa ikut dalam sesi ini. Hanya orang-orang terpilih yang boleh mengikuti tawuran. Dan pemilihan siapa yang berhak ikut serta ditentukan oleh keputusan warga.

Baca juga: Wisata Kuliner Londer di Kendal, Healing sambil Nikmati Menu Tradisional di Tengah Alam Pedesaan

Sebelum tabur digelar secara terbuka, para pemuda terlebih dahulu melemparkan sesaji kepada warga yang hadir sembari memutari situs Menggung. Selepas mengitari situ, barulah warga saling melempar sesaji.

Dari berbagai sumber, tradisi tawuran berasal dari kisah Dusun Nglurah yang terbagi dua wilayah, didirikan seorang patih dari Kerajaan Kahuripan bernama Narotama mengembara yang tinggal di Nglurah Lor.

dhukutan tawur

Saat itu, Narotama bertemu dengan seorang wanita sakti dari desa seberang bernama Nyai Roso Putih. Tapi, pertemuan ini menciptakan perseteruan. Adu kesaktian terjadi hampir setiap hari dan meluas ke warga lainnya. Namun uniknya, dari serangkaian perkelahian itu timbul benih cinta yang pada akhirnya keduanya sepakat untuk membina rumah tangga.

Setelah menikah, sepasang pendekar ini dinobatkan menjadi pepunden atau pemimpin Nglurah dengan sebutan Kiai dan Nyai Menggung. Perseteruan keduanya itulah yang di kemudian hari dijadikan tradisi tawur Dhukutan.

Menurut Sugeng, makna dari tradisi tawur adalah bahwa kedua dukuh telah rukun dan kini saatnya merawat perdamaian untuk membangun kebersamaan demi terciptanya desa yang gemah ripah loh jinawi. Ya, Dhukutan yang sebelumnya simbol kerukunan antarwarga, kini menjadi salah satu objek wisata di Jawa Tengah.  (Aji)