Oleh Gufron Aziz Fuadi*
KALAU pergi ke Pantai Air Manis, Kota Padang, kita akan melihat bongkahan batu seperti orang yang sedang tertelungkup. Konon itu adalah sosok Malin Kundang yang durhaka kepada ibunya dan dikutuk menjadi batu.
Legenda Malin Kundang adalah cerita rakyat yang berasal dari Provinsi Sumatera Barat yang berkisah tentang seorang anak yang durhaka kepada ibunya dan dikutuk menjadi batu.
Durhaka karena, setelah sukses, si Malin ini tidak mau mengakui ibunya yang miskin.
Orang yang tidak mau mengakui ibunya atau orangruanya disebut sebagai anak durhaka. Mengakui tapi tidak mau merawatnya atau menelantarkan, masyarakat menyebutnya anak durhaka, meskipun derajatnya lebih ringan.
Baca juga: Total Ada 639 Kasus Perceraian di Pesawaran Tahun Ini
Mengakui tetapi sering melawan perintahnya, itu juga durhaka. Mengakui tapi sering melecehkan, tidak menjaga nama baiknya atau memenjarakannya karena hutang piutang, itu juga durhaka.
Di mata masyarakat, anak durhaka, meskipun dia kaya dan berkuasa, tetaplah dipandang negatif. Meskipun kadang tidak banyak yang berani mengungkapkan penilaiannya itu.
Bila seseorang tidak mau mengakui orangtua yang melahirkannya diberi predikat negatif sebagai anak durhaka, lantas apa sebutan untuk orang yang tidak mengakui Allah sebagai Tuhannya?
Padahal Allah-lah Yang menciptakan, Yang memberikan hidup, Yang memberi rejeki dan Yang lainya?
Alquran menyebut orang yang tidak mau mengakui Allah sebagai Tuhannya dengan predikat kafir.
Baca juga: Wali Kota Eva Janjikan Tambah Dana Operasional 2448 Kader Ketahanan Pangan
Kafir, berasal dari kata dasar yang terdiri dari huruf kaf, fa' dan ra'. Arti dasarnya adalah "tertutup" atau "terhalang". Kafir berarti "terhalang dari petunjuk Allah". Orang kafir adalah orang yang tidak mau mengikuti pentunjuk atau hidayah Allah SWT karena petunjuk tersebut terhalang darinya. Kafir adalah lawan dari iman.
Identitas kafir adalah pilihan seseorang tanpa ada paksaan, sebagaimana beriman juga pilihan. La ikraha fiddin (لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ) “tidak ada paksaan dalam beragama”.
Dalam Al Kahfi: 29 Allah memberikan kebebasan kepada kita sembari menjelaskan konsekuensinya atas pilihannya:
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek (neraka)."
Jadi identitas kafir itu adalah pilihan. Sedangkan berbeda ras, suku, bangsa atau jenis kelamin adalah fitrah yang Allah berikan, tanpa ada kesempatan seseorang untuk memilih. Sehingga Islam dari awal menentang paham rasis dan ke-kastaan.
Baca juga: Firli Saksikan Penggeledahan 2 Rumahnya, Ada Koper dan Tote Bag
Meremehkan, menindas dan mengambil hak orang lain adalah kedzaliman. Tetapi kedzaliman terbesar adalah menyekutukan Allah.
"Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
(Luqman: 13)
Tidak mengakui dan melawan orangtua adalah durhaka. Ini adalah pilihan antara berbakti dan durhaka. Tidak mengakui Allah sebagai Tuhannya adalah kafir. Menyekutukan atau menduakan Allah musyrik atau dzalim.
Tetapi akhir akhir sedang populer istilah Malin Kundang politik. Suatu istilah untuk menyebut seseorang yang awalnya bukan apa apa dan bukan siapa siapa, kemudian karena hal tertentu diberi karpet merah sehingga menjadi apa-apa setelah itu meninggalkan induk partainya. Seolah olah dia besar dengan sendirinya tanpa ada induk semangnya.
Apa penyebab orang berkhianat?
Penyebab yang paling sering
adalah ambisi yang berlebihan, keserakahan, dan hawa nafsu. Maka orangtua dulu sering mengingatkan, jangan menggigit melebihi kemampuan kamu mengunyahnya...
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)
