Helo Indonesia

Media Singapura Ungkit Penangkapan Teroris Asal Uzbekistan di Indonesia

Winoto Anung - Internasional
Selasa, 25 Juli 2023 18:59
    Bagikan  
Jakarta
The Straits Times

Jakarta - Keempat teroris itu pertama kali ditangkap di Jakarta pada 24 Maret. FOTO: AFP

HELOINDONESIA.COM - Media Singapura menyoroti terorisme di Indonesia. Ini sebenarnya berita lama, dan tentang penangkapan teroris asal Uzbekistan, Maret 2023 silam, namun masih menjadi catatan peringatan bagi Singapura.

Disebutkan bahwa penangkapan empat tersangka teroris dari Uzbekistan oleh Indonesia, dan upaya pelarian mereka berikutnya, menggambarkan bagaimana Asia Tenggara tetap rentan terhadap bahaya radikalisasi.

Menurut media Singapura The Straits Times, hal tersebut merupakan peringatan dari pihak berwenang Singapura, pada hari Senin.

Keempatnya, berusia 26 hingga 40 tahun, pertama kali ditangkap di ibu kota Indonesia, Jakarta, pada 24 Maret, kata Departemen Keamanan Dalam Negeri (ISD) Singapura.

Baca juga: Kabar Baik, Tidak Ada Pemberhentian Tenaga Honorer Meski RUU ASN Segera Disahkan

Tiga dari mereka adalah anggota kelompok militan Katiba Tawhid Wal Jihad (KTWJ) yang terlatih dalam pertempuran, yang terkait dengan kelompok teror Al-Qaeda.

Sedangkan, pelaku keempat telah memberikan bantuan keuangan dan dokumen perjalanan palsu kepada yang lain.

Tiga tersangka kemudian keluar dari fasilitas penahanan, menewaskan satu petugas dan melukai tiga lainnya dalam proses tersebut, kata ISD dalam Laporan Penilaian Ancaman Teror tahunannya.  Dua ditangkap kembali dan satu tenggelam dalam usahanya untuk melarikan diri.

Baca juga: Budi Arie Menuai Kecaman dan Disebut Jahat Usai Katakan Yang Kalah Pemilu Masuk Penjara

Laporan tersebut, yang memperhatikan lingkungan keamanan di wilayah tersebut, menambahkan bahwa salah satu tersangka bertanggung jawab untuk merekrut dan mengirim calon agen ke KTWJ saat dia berbasis di Turki.

Keempatnya tiba secara terpisah di Indonesia pada Februari dari Istanbul, transit melalui Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dan Malaysia.

“Para tersangka menyebarkan materi propaganda ekstremis untuk merekrut orang Indonesia yang berpikiran sama untuk melakukan serangan teror di Indonesia,” kata ISD.

Baca juga: Pengawal Airlangga Hartarto Diduga Ancam Tembak Wartawan, Jubir Kemenko Perekonomian Minta Maaf

Seorang tersangka dikabarkan menikah dengan wanita Indonesia di Bandung, Jawa Barat, untuk memudahkan perjalanan empat tersangka ke Nusantara.

Sekitar dua minggu setelah penangkapan mereka, tiga dari mereka melarikan diri dari fasilitas penahanan imigrasi di Jakarta pada 10 April, kata ISD.

Selama pelarian, mereka mencuri pisau dari pantry di pusat penahanan dan menikam seorang petugas imigrasi dan melukai tiga orang lainnya, media lokal melaporkan.

Baca juga: Inilah Sosok Divaldo Alves, yang Dirumorkan Bakal Jadi pelatih Baru Arema FC

Ini terjadi selama bulan suci Ramadhan, ketika umat Islam berpuasa dari fajar hingga senja. Para tersangka dilaporkan menerobos langit-langit ruangan tempat mereka ditahan, dan menyerang petugas yang sedang makan sahur.

Dua dari pelarian ditangkap kembali dalam perburuan polisi sementara yang ketiga tenggelam setelah melompat ke sungai.

ISD memperingatkan bahwa dengan sebagian besar negara telah mencabut pembatasan perjalanan lintas batas setelah pandemi, orang-orang yang teradikalisasi dari wilayah tersebut dapat meninjau kembali rencana mereka untuk melakukan perjalanan ke zona konflik untuk menjadi pejuang teroris asing.

Baca juga: Komnas HAM : Bawaslu Harus Jamin Hak Konstitusional Kelompok Rentan di Pemilu 2024

Departemen tersebut memperkirakan bahwa sekitar 600 orang Asia Tenggara terkait dengan kelompok teror Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) di Suriah, tempat mereka kemungkinan besar akan tetap tinggal.

Orang-orang ini mungkin ada di sana untuk tujuan pelatihan. Beberapa diketahui berhubungan dengan pendukung di wilayah tersebut melalui media sosial, dan dapat memfasilitasi perjalanan.

ISD juga menyoroti kasus serupa di Yaman dan Afghanistan. Setelah tertanam dalam organisasi tuan rumah mereka, “mereka dapat berfungsi sebagai jembatan antara jaringan teror global dan kelompok militan regional, memfasilitasi transfer keahlian operasional, dan bahkan memfasilitasi dan mengarahkan serangan ke dalam negeri”. (*)

(Winoto Anung)