HELOINDONESIA.COM - Seorang pengusaha asal Singapura ditembak mati oleh orang tak dikenal, pada Senin di kota resor populer di provinsi Batangas, selatan ibu kota Filipina, Manila.
Pengusaha asal Singapura tersebut Bernama Chan Kim Tay, 66. Saat itu ia baru saja meninggalkan toko kelontongnya di pasar umum di kota Lian dan sedang menuju rumah sekitar pukul 6 sore.
Lantas, ada seseorang tak dikenal berjalan ke arahnya dan menembak kepalanya. Hal tersebut diungkapkan oleh Sersan Arthur Rosales, petugas kasus, mengatakan kepada The Straits Times.
Kota Lian berjarak sekitar tiga jam di selatan Manila dengan mobil. Mr Chan dibawa ke rumah sakit di dekat kota Nasugbu, di mana ia dinyatakan meninggal pada saat kedatangan.
Baca juga: Sandiaga Uno Resmi Gabung ke PPP, Netizen: Jangan Lompat Lagi Ya, Dosa Besar Melompati Kabah
Sersan Rosales mengatakan polisi sekarang sedang memeriksa kamera keamanan di dekat tempat Chan dibunuh untuk mengetahui identitas penembak.
Dia mengatakan para penyelidik sedang mencari beberapa petunjuk, termasuk kemungkinan bahwa perselisihan domestik mungkin menyebabkan pembunuhan Mr Chan, dan bahwa orang Singapura itu mungkin dibunuh oleh seorang pria bersenjata sewaan.
“Mr Chan telah berada di Filipina selama sekitar 30 tahun,” kata Sersan Rosales. Ia menikah dengan Nyonya Marife Chan, 49, seorang Filipina. Tiga anak mereka berusia 28, 17 dan tujuh tahun.
Sersan Rosales mengatakan Nyonya Chan mengatakan kepada penyelidik bahwa suaminya tidak memiliki musuh atau bertengkar dengan siapa pun.
Baca juga: Menguasai Pertandingan, Timnas Indonesia Ditahan Imbang 0-0 oleh Palestina
Mr Chan sebagian besar menyendiri karena dia tidak pernah belajar berbicara Tagalog, bahasa lokal, menurut Sersan Rosales, mengutip saksi. Chan bukan orang Singapura pertama yang terbunuh dengan cara ini saat tinggal di Filipina.
Pada Agustus 2015, Stanley Jang, 36, yang mengelola sebuah perusahaan komputer, ditembak di wajahnya oleh dua pria saat dia bekerja di dalam biliknya di kota Paranaque, tepat di selatan Manila.
Jandanya mengatakan kepada polisi bahwa Jang, yang telah berada di Filipina selama sekitar 10 tahun, telah menerima ancaman pembunuhan atas perselisihan bisnis sebelum dia dibunuh. (*)
(Winoto Anung)
