HELOINDONESIA.COM - Ini bukan cerita batalnya AHY jadi cawapres. Meski sudah 4 tahun lalu, masih segar dalam ingatan bagaimana detik-detik dramatis Mahfud MD dibatalkan menjadi cawapres untuk Pilpres 2019 berpasangan dengan Jokowi (Joko Widodo), saat itu incumben.
Adalah Wakil Menteri Pertanahan dan Tata Ruang, Raja Juli Antoni yang menjadi saksi detik-detik dramatis tersebut, sebab dialanya yang mengantar Mahfud MD ke arah Istana, dia yang menjadi sopirnya. Tentu saja belum menjadi wakil Menteri.
Raja Juli menceritakan peristiwa itu dalam unggahan di X (Twitter) dengan judul: Ojo Gumunan, Ojo kagetan, Ojo Kesusu (Jagan gampang heran, jangan kagetan, jangan terburu-buru). Dia memulai dengan pengakuan, jam terbang di dunia politik masih sangat pendek, bocil ingusan ibaratnya.
“Jam terbang saya di politik terbilang masih sangat pendek. Masih bocil dan ingusan di banding para senior,” ungkap Raja Juli (@RajaJuliAntoni).
Baca juga: Gerindra Sebut Perlu Pertemuan Dengan Demokrat Untuk Berkoalisi Usung Prabowo
Namun, lanjutnya, pengalaman penetapan capres-cawapres 2018 membantu mempercepat proses belajar politik saya agar ojo gumunan, ojo kagetan dan ojo kesusu mengambil kebijakan politik.
“Sekitar pukul 12.00 siang, pada hari itu, saya mengantar Pak Mahfud dengan mobil saya ke istana untuk mengukur baju yang akan dikenakan besok ketika mendaftar ke KPU sebagai Cawapresnya Pak Jokowi dan mengantarkan CV terbarunya untuk kelengkapan administrasi pendaftaran,” kata Raja Juli.
Lewat pukul 15.00 dia dan sis Grace (Grace Natalie) sudah sampai di Plataran Menteng. Beberapa Sekjen partai tidak lama kemudian turut begabung.
Baca juga: Nasdem Klaim Demokrat Sudah Dikabari Penetapan Cak Imin : Sampai Dinihari AHY Nggak Respon
“Selang beberapa menit seorang Sekjen partai memperlihatkan WA dari Ketua Umumnya kepada saya. ‘Geser ke Kyai Ma’ruf.’ Katanya sambil membacakan deretan huruf di hp-nya,” ungkap Raja Juli.
“Sebagai pendatang baru di dunia persilatan politik nasional saya terperanjat. Keget tak alang-kepalang. Politlk kita terlalu dinamis, berubah bahkan dalam hitungan menit. Last minutes. Injury time,” tamabah sang Wakil Menteri.
Menurut dia, deberapa teman dekat dia kabari dan tetap meminta info ini dirahasiakan sambil menunggu perkembangan dan kepastian informasi finalnya.
Baca juga: Sidang DKPP, Bawaslu Minta Seluruh Anggota KPU Diberhentikan Sementara
Jam 16.00 lebih Pak Jokowi sampai di Plataran menyusul para ketum partai yang telah duluan sampai. Dalam pertemuan terbatas dan tertutup secara resmi Pak Jokowi menyampaikan keputusan bersama untuk kebaikan bersama.
“Saya tahu keputusan ini tidak bisa menyenangkan semua pihak,” kata Pak Jokowi sambil rasanya melihat ke saya yang duduk di hadapannya.
Cerita Raja Juli Antoni hanya sampai di situ. Dia lantas mengaitkan kondisi politik belakangan ini, yakni saat drama pembatalan AHY jadi bakal cawapres Anies, dan berganti Cak Imin (Muhaimin Iskandar) yang ditunjuk jadi cawapres.
“Hari-hari ini percaturan politik kita terasa sangat dimamis. Kocok ulang koalisi seperti yang tejadi pekan lalu ketika Gus Imin berlabuh menjadi Cawapresnya Mas Anies, meski bagi sebagian orang mengagetkan, bagi saya mulai terasa biasa-biasa saja,” ujarnya.
“Ya. Pengalaman politik jelang 2019, seperti yang saya singgung di atas, jauh lebih dimamis. Sekarang, saya tidak terkaget-kaget lagi. Ora kagetan. Ora gumunan. Santai. Ojo Kesusu ambil langkah politik,” tandasnya.
Menurut Rajaa Juli, drama politik akan terus berlanjut sampai detik-detik capres dan cawapres didaftarkan ke KPU awal November. Panggung sandiwara akan terus memproduksi lakon-lakon baru dengan kegembiraan dan kekecewaan baru.
“Satu saat menjelang undur dari dunia publik, saya berniat menulis autobiografi politik mengenai hal-hal serupa di atas dengan lebih detail dari satu babak ke babak lainnya,” tambah Wakil Menteri Raja Juli.
Mungkin tulisan itu nanti bisa jadi pelajaran bagi para junior politisi, pengamat dan mahasiswa yang melakukan studi politik Indonesia. (**)
