HELOINDONESIA.COM - Di tahun politik jelang Pilpres 2024, kiprah Prabowo Subianto yang akan maju sebagai capres, kembali diungkit masa lalu terkait kasus penculikan aktivis pada 1998.
Pakar politik dari SMRC Saidiman Ahmad membahas postingan masalah penculikan aktivis 1998, namun dia tersulut pada postingan Fakhri Hamzah di Instagram. Fakhri sendiri menurut Saidiman, sejak 2014 mendukung Prabowo sampai sekarang.
Sehingga, Saidiman melihat sesuatu hal yang menarik membaca postingan Fakhri Hamzah di Instagramnya. Dia memaparkan beberapa gambar yang diunggah Fakhri tersebut.
Postingan di instagramnya ini dimulai dengan slide dengan tulisan besar "Menjawab Gorengan Isu Penculikan dan Pelanggaran HAM."
Menurutnya, dengan mudah terlihat postingan itu ingin mengklarifikasi atau membantah isu yang beredar. Ini didukung dengan sejumlah slide pendukung yang berisi kebersamaan Prabowo dengan sejumlah tokoh.
“Kira-kira maksudnya adalah untuk memperkuat bantahan bahwa sang calon tidak melakukan apa yang diduga dilakukan,” ujar Saidiman.
“Tapi pada saat yang sama, isinya justru mengkonfirmasi dugaan penculikan dan pelanggaran HAM itu,” tandas Saidiman Ahmad yang juga lulusan UI itu.
Baca juga: Unggah Foto, Fadli Zon Sebut Sejak Dulu Prabowo Dekat dengan Ulama
Ada gambar Prabowo bersama BJ Habibie dengan keterangan bahwa Habibie memberhentikan Prabowo dari jabatan Pangkostrad.
Ada slide berisi gambar Wiranto yang membentuk Dewan Kehormatan Perwira untuk memeriksa Prabowo yang salah satunya menemukan Prabowo bertanggungjawab atas pembentukan tim Mawar yang menculik sejumlah aktivis 1998 PRD. Juga ada foto bergambar Jenderal Subagyo HS yang menjadi Ketua DKP.
Yang lebih meyakinkan adalah gambar tiga mantan aktivis 98 (Desmond Mahesa, Haryanto Taslam, dan Pius Lustrilanang) dengan keterangan "3 dari 9 aktivis yang diculik tim Mawar."
Baca juga: Mahfud MD Berikan Visa Masuk Indonesia Bagi Mahasiswa RI di Luar Negeri Zaman Terjadi G30S
“Postingan Fakhri itu justru menegaskan keterlibatan Prabowo pada pelanggaran berupa penculikan para aktivis pro-demokrasi sepanjang 1997-1998,” kata Saidiman. (**)
