CIMAHI, HELOINDONESIA.COM - Bau busuk dan kebisingan dari TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terakhir) di Kampung Cileutik, Cimahi, menyebabkan mual dan pusing para murid di SD Pambudi Dharma.
"Kalau kondisi ini tidak segera diatasi Pemkot setempat, sekolah kami akan kehilangan siswa," kata Kepala SD Pambudi Dharma Cucu Sholihat kepada wartawan, pada Jumat (14/6/2024) di Kota Cimahi.
Dia katakan, Pemda memang berjanji akan merelokasi sekolahnya. Tapi, proses yang berlarut-larut hingga kini menyebabkan proses belajar dan mengajarnya jadi terganggu.
Para murid, katanya, menyampaikan keluhan polusi dampak dari TPST Sentiong yang mengganggu hingga membuat sejumlah siswa berencana pindah ke sekolah lain.
Baca juga: Klasemen EURO 2024 : Jerman dan Spanyol Diurutan Teratas ! Italia di posisi Kedua
Akibat keluhan tersebut, Komisi III DPRD Kota Cimahi pernah melakukan sidak ke TPST Sentiong di Kampung Cileutik RW 14, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.
Usai meninjau lokasi, Komisi III DPRD Kota Cimahi menggelar diskusi bersama Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Kementerian PUPR, Kepala Sekolah setempat, Ketua RW, perwakilan Kelurahan, serta Dinas Ligkungan Hidup.
Dalam pertemuan itu, Cucu Sholehati mengungkapkan, pihaknya bukan tidak mendukung adanya TPST Sentiong ini. Namun yang ia khawatirkan dampak terhadap siswanya.
“Terutama dengan bau sampah yang menyengat, dampak terhadap para siswa dalam belajarnya merasa terganggu, dan dengan kebisingan suara mesin pencacah mengganggu para siswa yang sedang belajar,” ungkap Cucu.
Baca juga: Berikut Kode Redeem Game Genshin Impact Hari ini, Minggu 16 Juni 2024
Yang disesalkan Cucu, operasional mesin cacah sampah tersebut pada saat jam belajar siswa sekolah dari Jam 7.00 WIB sampai dengan pukul 14.00 WIB.
Cucu juga memohon kepada pejabat terkait, mencarikan solusi yang dapat dilakukan dalam pengolahan sampah tersebut dan kebisingan suara mesin pencacah yang menggangu belajar mengajar bagi para siswa.
Selanjutnya anggota Komisi III Enang Sahri Lukmansyah menegaskan, pihaknya juga sudah menerima masukan terkait TPST Santiong yang mengganggu beberapa warga setempat ke DPRD.
“Kami dapat keluhan-keluhan dari LSM dan media, dengan adanya TPST Santiong tersebut, dalam pengolahannya sangat menggangu aktivitas masyarakat setempat,” ujar Enang Sahri.
Baca juga: Kominfo Akan Blokir Platform Media Sosial X?? Ini Alasannya
Sementara itu anggota DPRD lainnya, Supiyardi, mengatakan TPST dari bantuan World Bank senilai 50 miliar, mestinya dikaji dulu sebelum proyek tersebut dikerjakan.
“Jangan asal diterima begitu saja. Harus dilihat terlebih dahulu dampak dari pembangunan TPST Santiong ini, apakah masyarakat setempat tahu? Dan ada koordinasi?,” ucap Supiyardi.
Memang, katanya, TPST Sentiong secara ekonomi menguntungkan pemerintah Kota Cimahi. Tapi, di sisi lain pihak pengelola harus dicari solusi dari dampak bau dan bisingnya mesin.
Anggota Komisi lll Nabsun, setuju solusi untuk merelokasi sekolahan tersebut.
Baca juga: Ronaldinho Sebut Brazil Miliki Skuad Terburuk dan Tak Akan Nonton Tim Samba di Copa Amerika 2024
Sedangkan menurut Kepala Balai Jawa Barat Kementerian PUPR Oskar Siagian, pihaknya hanya melakukan pembangunan TPST saja.
“Terkait pengelolaannya itu diserahkan kepada pihak Pemerintah Kota Cimahi itu sendiri,” ucapnya.
Terkait aspirasi dari pihak sekolah, Oskar berjanji akan melakukan koordinasi dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi.
Bau busuk tersebut, katanya, berasal dari sampah yang menginap berhari-hari.
Baca juga: Densus 88 Grebek Terduga Teroris di Cikampek: Tukang Bubur
"Ke depan, saya sudah usulkan ke Pemkot Cimahi agar yang diolah adalah sampah baru. Supaya dampak bau busuknya tidak menyengat sekali," ujar Oscar.
