DEMAK, HELOINDONESIA.COM - Beragam wisata bersejarah peninggalan Kesultanan Demak dapat dinikmati hingga sekarang. Di antaranya seperti Masjid Agung Demak, Makam Raja-raja Kesultanan Demak, dan Makam Sunan Kalijaga.
Namun referensi sejarah terkait silsilah dan situs Kesultanan Demak masih sangat minim. Bahkan keberadaan situs Keraton Demak sampai saat ini masih menjadi persoalan simpang siur yang harus dicari titik temunya.
Sementara situs sejarah ini sangat penting sebagai media edukasi dan penelitian dalam memahami perkembangan peradaban, peristiwa bersejarah dan pola sosial masyarakat. Demi melestarikan warisan budaya tersebut bagi generasi saat ini dan mendatang.
Baca juga: Draf Perwal Diserahkan ke Pemkot Semarang, PRH segera Diaplikasikan ke Rumah Warga
Berlatar belakang persoalan-persoalan tersebut, Dinas Pariwisata Kabupaten Demak berusaha mengeskplor kepariwisataan di Kota Wali dengan menggelar Sarasehan Kepariwisataan Demak Berbasis Sejarah dan Potensi Lokal.
Hadir sebagai narasumber pada diskusi yang dipandu Jayanto Arus Adi, wartawan senior yang juga pemerhati sejarah, adalah Prof Ir Totok Roesmanto MEng, peneliti kearsitekturan Demak dan seni arsitektur Islam dari UIN Walisanga Semarang. Serta Peneliti Sejarah dan akademisi dari Universitas Al Azhar Dr Syariat Syarifa.
Pakar Arsitektur
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak Dra Endah Cahya Rini MM menjelaskan, sudah menjadi goresan sejarah Demak sebagai pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Akan tetapi situs yang disepakati sebagai cikal bakal Keraton Demak Bintoro hingga kini belum ada. Meskipun ada Masjid Agung Demak berikut makam Raja-raja Demak, serta makam Sunan Kalijaga di Kadilangu sebagai bukti peninggalan Wali Sanga.
Baca juga: 407 Pedagang Pasar Badog Purbalingga Tempati Bangunan Baru
"Itu lah menjadi alasan kami menghadirkan pakar arsitektur sekaligus peneliti bangunan-bangunan sejarah dan di situs di Demak, Prof Dr Totok Roesmanto serta akademisi sekaligus ahli sejarah dari Universitas Al Azhar Dr Syariat Syarifa untuk mendiskusikannya. Berharap muncul sejarah yang sebenernya tentang Demak. Sehingga nantinya para tour leader benar dalam story telling tentang Kesultanan Demak," urainya, Selasa (12/12/2023).
Pendapat sama disampaikan Wabup Demak KH Ali Makhsun MSi yang juga dihadirkan sebagai pembicara utama. Demak berikut historisnya tentang Wali Sanga adalah destinasi wisata luar biasa. Namun belum tampak 'waow'.
Bahkan hingga kini Demak sedang mencari ciri khas lokalnya yang bisa dijual sebagai daya tarik destinasi wisata religi. "Maka itu kerawuhan para pakar ini diharap bisa beri kontribusi yang selama ini menjadi 'PR' Kabupaten Demak," kata Wabup Ali Makhsun.
Jika bisa, lanjutnya, Kabupaten Demak memiliki museum besar berisi benda-benda yang mampu menceritakan Kesultanan Demak Bintoro mulai dari sejarah didirikannya oleh Sultan Fatah hingga akhirnya berkembang sampai saat ini. lengkap dengan fasilitas museum digutal. Sebagaimana museum di kawasan Masjid Nabawi, di Madinah.
Baca juga: Ganjar: Pemimpin Harus Beri Perhatian dan Teladan Antikorupsi
"Intinya, wisata religi datang ke Demak itu tidak hanya untuk berziarah. Namun ada pengalaman edukasi pula tentang sejarah Islam di Kesultanan Demak yang dapat dibawa sepulangnya mereka ke tempat asal. Sehingga bisa diceritakan ke orang lain, dan berujung keinginan berkunjung juga ke destinasi wisata religi Demak," ungkap Wabup Ali Makhsun.
Hadir pula pada sarasehan yang digelar luring dan daring tersebut sejumlah akademisi dari Unisfat Demak, Unnes Semarang, Unissula Semarang, dan Stiepari Semarang. Di samping juga para pemangku kepentingan kepariwisataan Kabupaten Demak. (Jati)
