Helo Indonesia

Lagi Musim Jualan Kucing dalam Karung, Khong Guan Isi Rengginang

Annisa Egaleonita - Lain-lain
Rabu, 13 September 2023 08:33
    Bagikan  
Lagi Musim Jualan Kucing dalam Karung, Khong Guan Isi Rengginang

Prof. Sudjarwo

Oleh Prof. Sudjarwo*

KITA sering dengar istilah "jangan beli kucing dalam karung". Kalimat kiasan tersebut mengingatkan agar berhati-hati dalam membeli sesuatu. Tegasnya, jangan membeli sesuatu yang kita tidak tahu pasti apa barangnya.

Jangankan membeli kucing dalam karung, Khong Guan yang jelas merk dan gambarnya saja, ketika dibuka, ternyata isinya rengginang. Nah, yang model-model begini jelang pemilu bermunculan bak kucing persia atau bak kaleng Khong Guan itu tadi.

Banyak orang yang saat musim-musim begini bisa mendadak selalu ramah, belusukan hingga gang-gang sempit dan becek, peci sampai miring tak pernah lepas dari kepala, bila perlu sorban selalu melingkar di leher agar terlihat berbudi pekerti, baik hati, dan relejius.

Memang kita tidak bisa memastikan apa yang kita lihat seperti itu sama dengan isinya. Kadang, bahkan sering, kecewanya nanti, setelah "Mat Peci" dilantik di gedung megah dan berjas mentereng, nomor HP pun ganti, boro2 senyum.

Baca juga: Manifesto Ganjar Diunggah di YouTube, Ajak Adu Gagasan Bukan Perseteruan

Sebelum itu terjadi, menerima kenyataan tak sesuai ekspektasi, kita minimal harus mencari tahu dulu dari berbagai sumber semampunya agar siap-siap kecewa. Mendekati hari “H” pesta rakyat lima tahunan, pedagang "kucing dalam karung" dan Khong Guan isi reginang makin ramai.

Mereka bersama antek-anteknya ngasong ke mana-mana dengan cara apa saja, oleh siapa saja. Bahkan menjadi parodi di hampir semua media sosial yang ada, memuatnya.

Rakyat dipertontonkan dengan “sirkus politik” yang menarik untuk disimak dan diberi tepuk tangan serta tertawaan.
Bisa dibayangkan, ada pemain yang berputar-putar di awang-awang, kemudian menukik ke bawah berharap disambut kursi empuk.

Ternyata yang di dapat tanah lapang keras, karena sang pemain selama ini hanya menikmati ilusi dari jauh.

Ada lagi pemain yang membagikan “angpau” dengan harap ada imbal balik atas jasa baik. Ternyata yang dia dapat halusinasi karena angpau habis terbagi, tidak sesuai dengan estimasi dengan suara yang kembali.

Beda lagi nasib yang diberi tugas menjual kucing yang sudah dalam karung; justru merekalah yang paling banyak mendapat keuntungan, karena mereka tidak hanya membawa satu karung kucing.

Baca juga: Demokrat Akan Dorong AHY Jadi Cawapres Ganjar, PDIP : Wajar-wajar Saja Namanya Ketum Partai

Tetapi beragam karung mereka bawa, sehingga jika kondisi harus menawarkan karung A, karung yang lain di sembunyikan. Demikian juga jika kondisi karung B lebih menguntungkan, maka dia sodorkan karung B; dan ini dilakukan seterusnya.

Keuntungan beliau ini boleh dikatakan “dari atas keruntuhan, dari bawah kebocoran” jadi mengalir terus; doanya kalau bisa tiap tahun ada pemilihan umum.

Tinggal kita yang harus cerdas, karena bisa jadi kucing dalam karung yang di bawa itu justru macan kumbang yang siap menerkam kita. Atau berubah menjadi ular berbisa yang ganas bisa membunuh kita seketika; atau bisa juga itu tikus yang menggeret semua harta negeri ini menjadi ludes karenanya.

Lima tahun itu waktu yang cukup lama jika isinya penderitaan, dan menjadi sangat singkat jika itu isinya kebahagiaan. Tinggal bagaimana kita mau menderita apa bahagia, karena mau bahagia atau menderita “Calo Politik” lah yang tertawa.

Orang bijak mengatakan kalau kita tertipu karena buta, yang sakit kita; tetapi kalau kita tertipu saat kita terjaga, berarti kita gila.

Baca juga: Rumah Terbakar di Kemiling, Penyebabnya Diduga Konsleting Listrik

Usia negeri ini sudah tidak muda lagi, pemilihan umum sudah berlangsung berulang kali. Dari yang paling otoriter sampai yang paling egaliter pernah kita laksanakan. Jika kita masih terperosok pada lubang yang sama, maka kita tidak lebih adalah Keledai karena sering melakukan kesalahan yang sama pada peristiwa yang sama.

Jargon “wani piro entuk opo” yang berdengung semakin kencang saat ini, seharusnya kita sikapi dengan waspada, sebab ini melanda lapisan menengah ke bawah, yang secara kuantifikasi jumlahnya cukup besar. Dan, berarti sangat menentukan untuk pengumpulan suara sebagai modal pemenangan.

Teriakan para analis dan pengamat yang setiap hari ada di televisi atau media sosial, itu hanya menyentuh lapisan atas. Mereka sama sekali tidak akan diperhatikan, manakala pemilih kelas menengah kebawah berhadapan dengan cuan.

Kualifikasi dan kuantifikasi rupiah menjadi penentu segalanya dalam perhelatan pesta rakyat kelak bagi mereka. Apakah ini pembenaran dari adagium “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan” walahuaklam wisawab.

* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung