Oleh Gufron Aziz Fuadi
HAMAS adalah sebuah gerakan nasionalis dan militan Islam yang aktif di Tepi Barat dan Jalur Gaza dan memiliki tujuan mendirikan negara Palestina merdeka di seluruh wilayah Palestina. Karena pada hakikatnya, wilayah Palestina adalah milik bangsa Palestina. Hamas dalam hal ini tidak mengacu pada resolusi PPB no 181/1947 apalagi pernjanjian Oslo yang hanya memberikan 16% wilayah untuk bangsa Palestina. Itupun sebagai pemerintahan otorita dibawah Israel.
Logikanya, bangsa pendatang yang menumpang tinggal dan kemudian merampas dan merampok segala harta benda tuan rumah saja berani mengklaim semuanya sebagai miliknya, mengapa pemilik aslinya tidak berani?
Jangan mentang mentang dibekingi para preman, terus kami harus takut!?
Mengutip Tempo.co, Rabu 11 Oktober 2023, "...Dilansir dari Britanica, Hamas didirikan pada 1987 sebagai upaya untuk menentang Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dalam konteks konflik Israel-Palestina dan menentang usaha untuk menyerahkan sebagian wilayah Palestina kepada Israel.
Sebelum berdirinya Hamas, sejak 1970-an banyak aktivis Ikhwanul Muslimin mendirikan jaringan amal, klinik, dan sekolah di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki oleh Israel setelah Perang Enam Hari pada 1967."
Baca juga: Palestina (Hamas) Standing Alone (Tulisan 1)
Sejak melancarkan gerakan perlawanan Intifadhah pada tahun 1987 dan kemudian mendapatkan dukungan luas dari rakyat Palestina, ini nanti terbukti ketika Palestina mengadakan pemilu untuk pertama kalinya tahun 2006, Hamas mengalahkan Fatah (PLO).
Disamping itu aktifitas Hamas mampu membuka mata dunia serta meraih simpati masyarakat dunia, bahwa yang terjadi dan menimpa warga Palestina adalah getho. Mengacu pada kota yang dipagar keliling dan terpisah dari masyarakat lainnya.
Amerika dan sekutu Eropa nya pada tahun 1997 memproklamirkan bahwa Hamas adalah organisasi teroris. Dan dalam pandangan Amerika dan Eropa, siapa yang berseberangan berarti melawannya. Sehingga secara lambat laun tidak ada lagi negara atau organisasi yang berani menyalurkan bantuan ke Palestina, khususnya Hamas. Termasuk negara negara Arab kaya raya dan bangsa serumpun.
Bahkan di negara Arab terbesar dan paling berpengaruh, rakyatnya tidak berani melakukan mobilisasi dukungan dana untuk Palestina. Mamnu', katanya. Dilarang, bahkan bisa masuk penjara. Jadi begitulah, meskipun saudara dan tetangga tapi terpaksa menutup mata, karena takut dengan preman dunia. Tercatat hanya negara Qatar yang masih berani memberi bantuan untuk Hamas. Tetapi karena itu, Qatar dicap mendukung terorisme dan kemudian pada tahun 2017 diembargo oleh Saudi, Bahrain, Uni Emirat, Mesir dan negara Arab teluk lainnya. Dan baru diakhir setelah 3,5 tahun kemudian.
Baca juga: GGP Raih Indonesias SDGs Award 2023 Kementerian PPN-Bappenas
Mesir, negara yang berbatasan dengan Gaza juga sangat membantu Palestina dengan membuka satu satunya pintu dengan dunia luar dan beberapa terowongan. Tetapi itu tidak lama, hanya selama Muhammad Mursi menjadi presiden Mesir dan segera ditutup setelah jenderal Abdul Fatah as-Sisi sukses melakukan kudeta dan menjadi presiden Mesir.
Itulah mengapa saya memberi judul tulisan ini, Hamas Standing Alone. Karena memang ditengah saudara dan tetangganya, Palestina (Hamas) betul betul berdir sendirian, yang lain duduk menonton sambil menunggu isyarat dari sang preman. Sambil memainkan gimik gimik keprihatinan. Untung nya masih ada bangsa Indonesia yang terus mengalirkan bantuan kemanusiaan tanpa henti ke jalur Gaza. Bantuan berupa rumah sakit dan obat obatan, sekolah, sumur dan pembangkit listrik melalui lem aga charity tersertifikasi seperti KNRP, LAZISMU, PKPU dan lain lain. Semoga pemerintah Indonesia tidak bersikap seperti pemerintah negara negara Arab yang mengkerut didepan preman dunia dan melarang warganya membatu Palestina yang sedang terjajah.
Sampai kapan Gaza akan terus bergolak?
"Tak akan ada perdamaian tanpa keadilan, tak ada keadilan tanpa pengampunan," pungkas Paus Benediktus, saat berkunjung ke Palestina.
(detiknews, 13 Mei 2009: "Paus Dukung Terbentuknya Negara Palestina")
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)
