Oleh Gufron Aziz Fuadi*
RASA gelisah adalah kondisi saat kita sulit merasa tenang baik secara fisik maupun mental. Gelisah adalah respon terhadap situasi diri atau lingkungannya yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Baik berupa ancaman, tekanan maupun kekhawatiran.
Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul melakukan uzlah dan kontemplasi guna memikirkan jalan keluar bagi problematika masyarakat jahiliyah yang sangat menggelisahkan.
Betul bahwa memilih seseorang menjadi nabi adalah hak prerogatif Allah. Tetapi Allah sebelumnya memberikan ilham agar yang akan dipilih bukan orang yang plonga plongo, tetapi orang yang aktif, jujur, terpercaya dan memiliki kegelisahan terhadap kondisi yang sedang tidak baik baik saja.
Umar bin Khattab, tak lama setelah masuk Islam mengusulkan kepada Nabi untuk melakukan pawai keliling Kota Mekah untuk mengurangi kegelisahannya terhadap kondisi dakwah dan umat Islam pada waktu dan kaitannya dengan ancaman rezim Quraisy.
Baca juga: 5 Life Skill yang Harus Dimiliki Anak agar Mandiri
Memang menyendiri atau uzlah, merenung serta melakukan gerakan dan perlawanan adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengobati rasa gelisah.
Rasa gelisah itu penting. Tanpa rasa gelisah, tidak mungkin timbul keinginan untuk berubah dan melakukan perubahan. Apa yang dialami oleh Muhammad SAW sebelum menjadi nabi, adalah kegelisahan yang mendorongnya untuk berubah dan melakukan perubahan.
Begitupun yang dialami Umar, kegelisahan juga yang mendorongnya untuk melakukan perubahan dari dakwah secara sembunyi-sembunyi menjadi lebih terbuka dan berani.
Perubahan yang tidak diawali oleh rasa gelisah atas kondisi yang ada, hanya akan menjadi jargon belaka. Tidak pernah terbakar semangatnya, karena suhunya hanya sebatas hangat hangat tahi ayam. Bukan sekedar tidak mampu membakar, bahkan sangat cepat dingin dan mati mesin.
Orang yang tidak menginginkan perubahan alias merasa nyaman dengan keadaan yang ada cenderung tidak akan bergerak, tidak akan berkontribusi juga tidak akan berpartisipasi.
Orang yang tidak gelisah, tidak menginginkan perubahan. Dan orang yang tidak ingin berubah, pasti menginginkan kelanjutan. Maka benarlah ketika Allah berfirman dalam
Surat Ar-Rad ayat 11:
"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka (berkeinginan) merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
Baca juga: Bupati Dendi Ramadhona Sampaikan Pesan ke KNPI Pesawaran
Orang yang tidak mau bergerak padahal tahu kondisi lingkungannya sedang tidak baik baik saja, hampir dipastikan dia sedang menderita sakit. Mungkin sakit fisiknya, mungkin mentalnya atau mungkin juga imannya.
Dan orang yang sakit cenderung males bergerak, kecuali sakit ODGJ. Karena ODGJ biasanya tetap terus bergerak, hanya gerakannya semau dia, tidak terstruktur, tidak sistematis dan tidak terkordinasi alias semau dia.
Lumrahnya orang sakit, biasanya tidak mau disebut sedang sakit sehingga tidak mau berobat. Mungkin takut minum obat atau takut disuntik. Yang demikian banyak.
Tapi yang parah dan menjengkelkan adalah tahu dirinya sakit tapi tidak mau berobat, karena takut sembuh. Sebab kalau sembuh berarti dia harus beraktivitas lagi. Dalam dunia tarbiyah, kasus seperti ini tidak sedikit. Sudah tahu bermasalah, amal ibadahnya menurun malah menjauh dari rumah sakit (menjauh dari liqoat) ya tambah nemen sakitnya.
Baca juga: Kadisdik Tanggamus Tinjau Asrama yang Terkena Puting Beliung di Ponpes Al-falah Sumbermulya
Suka tidak suka, terhadap orang yang sakit kita harus tega mengobati mereka, bila dengan obat oral membutuhkan waktu, ya diinjeksi saja bila bisa lebih cepat. Bisa dirayu dulu secara persuasif , bila tidak berhasil bisa "dijagal".
Bahkan dalam kondisi tertentu, bila bagian yang sakit itu tidak mungkin disembuhkan dan bahkan akan menular ke yang lainnya, maka amputasi bisa jadi solusinya.
Coba kita diagnosa sendiri, tidak bergeraknya kita saat ini, saat dimana bergeraknya kita sangat dinanti dan dibutuhkan, karena kita sakit atau karena kita nyaman dengan status quo dan ingin kondisi ini dilanjutkan?
Alhamdulillah Iwan Fals sudah sadar bahwa kondisi saat ini sedang tidak baik dan memilukan sehingga dia menulis lagunya:
...Kalau tak mau hidupmu pilu !
Kini saatnya kita katakan
yang kita inginkan perubahan
Perubahan bukan pergantian
perubahan bukan pergantian
yang kita inginkan perubahan
( MAINKAN HARMONIKAMU..Oi !! )
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)
