Oleh Gufron Aziz Fuadi*
SETELAH sepuluh tahun enam bulan mengemban amanah sebagai khalifah, Umar bin Khattab meninggal dunia dihujam pedang beracun Abu Lukluah, seorang fundamentalis radikal Majusi Persia. Dia dendam karena Kekaisaran Persia ditaklukan Sang Khalifah Amirul Mukminin.
Saat peristiwa tersebut, Beliau sedang mengimami Salat Subuh pada Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Dirakaat pertama, saat beliau mengulang-ulang bacaan, Abu Lukluah al Majusi menghunjamkan pisau bermata duanya sekali ke dada dan dua kali ke perut Umar.
Setelah itu, Abu Lukluah melarikan diri tetapi dihalangi oleh para jamaah lain sehingga dengan membabi-buta pedangnya melukai tiga belas orang lainnya sebelum akhirnya bunuh diri. Dan dari tiga belas yang luka, tujuh meninggal dunia.
Baca juga: Ancam Pakai Pistol, Penjaga Tempat Kos Ditangkap Polsek Batanghari
Setelah dibawa ke rumahnya dari masjid, Umar bertanya apakah yang melukainya seorang muslim? Para sahabat menjawab, bukan, tapi seorang fundamentalis radikal beragama Majusi Persia. Alhamdulillah, kata Umar, bahwa yang hendak membunuhku bukan muslim.
Khalifah Amirul Mukminin Umar bin Khattab bertahan tiga hari. "Tidak ada keberatan pun pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,” (Al-Ahzab :38),
Jelang sakratul maut, Umar bin Khattab memilih enam sahabatnya, yakni Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin Auf, dan Sa'ad bin Abi Waqqash untuk mendengarkan arahan, antara lain minta memilih khalifah setelah menyerap aspirasi masyarakat.
Baca juga: Ganjar Minum Jamu dan Santap Pecel di Media Center TPN Usai Jalani Tes Kesehatan
Padahal, pada saat itu, putranya sangat mumpuni. Abdullah bin Umar merupakan sahabat yang populer dan kuat dalam mengikuti sunnah Nabi. Putra Umar itu menonjol bukan karena bapaknya adalah khalifah, tetapi karena memang kapasitas dan kredibilitasnya mumpuni, bukan karbitan.
Beberapa sahabatnya menyarankan kepada Umar bin Khattab untuk memilih anaknya, Abdullah bin Umar, sebagai penggantinya. "Ya Amirul Mukminin, anak panjenengan itu lebih layak menerima jabatan khalifah ini, jadikan sajalah dia menjadi khalifah, kami akan menerimanya," kata seorang sahabat.
Namun, Umar tak ingin besar karena dirinya. Sang Khalifah bahkan pernah membatalkan transaksi bisnis yang memberikan Abdullah bin Umar keuntungan yang besar. Alasannya, Umar takut dan curiga transaksi tersebut tidak fair karena nama besar Umar sebagai khalifah.
Demikian pula tanggapannya atas usul para sahabatnya, Umar mengatakan tak ada keturunan Al Khattab hendak mengambil jabatan khalifah ini untuk mereka, termasuk Abdullah. "Cukuplah satu Umar dari keluarga Umar, yang merasakan beratnya beban amanah ini," tandasnya.
Baca juga: Pj Bupati Mulyadi Irsan Sampaikan Pesan Hari Santri 2023
Dia berpesan kepada para sahabatnya agar putranya tak ikut "copras capres". Setelah itu, Umar bin Khattab menoleh ke arah Abdullah bin Umar, anaknya seraya mengatakan, "Anakku Abdullah, sekali-kali jangan, sekali-kali jangan engkau berfikiran hendak mengambil jabatan ini!"
Abdullah pun mengaminkan peringatan ayahnya, sehingga sampai berakhir masa Khulafaur Rasyidin, Abdullah tidak pernah ikut campur dalam masalah tersebut. Akhirnya jabatan khalifah dilanjutkan oleh Utsman bin Affan dan kemudian Ali bin Abi Thalib. Keduanya bukan anak atau menantu Umar.
Begitulah sepotong perjalanan hidup Umar bin Khattab. Kisahnya sering menjadi inspirasi tetapi sangat sulit diduplikasi. Bahkan oleh presiden yang digadang gadang sebagai mirip Khalifah Umar.
Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)
