Oleh Prof. Sudjarwo*
GINO Vanellie (GV) mendedikasikan diri pada dunia pendidikan bermula dari tenaga pengajar salah satu sekolah menengah atas negeri (SMAN). Sebagai guru muda kala itu, GV memiliki pikiran yang visioner tentang pendidikan.
Namun, cara berpikirnya malah membuat dirinya tereliminasi dari lingkungannya. Mungkin, visinya mengusik kenyamanan para pengajar lain yang sudah puluhan tahun berada pada zona nyaman.

Gino Vanellie
GV yang baru lulus sebagai sarjana pendidikan Universitas Lampung menyeruak dengan visi metode belajarnya yang mungkin seperti konsep Kurikulum Merdeka saat ini. Sangking antusiasnya mengajar, mungkin, visinya pada tempat dan waktu yang kurang pas untuk masa itu.
Baca juga: Atlet Panjat Tebing dan Bola Voli Nyatakan Fight Hadapi Pra-PON
Wajar, tak semua cepat menangkap sesuatu yang baru. Namun, dia sudah sempat menyemai bibit pikirannya kepada para siswanya. Salah seorang muridnya mengatakan terinspirasi dari visi gurunya hingga akhirnya meraih gelar doktor.
Sang doktor mengatakan, GV mungkin juga sudah lupa ketika mengajar dirinya dan kawan-kawan sempat mengatakan visinya yang kemudian membuat dirinya berimajinasi untuk terus belajar dan belajar hingga meraih gelar S3.
Di depan kelas, GV pernah mengajak para siswanya meliarkan pikirannya. “Ayo liarkan pikiranmu, sehingga kalian akan menemukan kebebasan dalam belajar secara sempurna."
Ketika gelombang reformasi melanda negeri ini, GV bersama rekan-rekannya seperjuangannya ikut hanyut menjelajah dunia politik hingga akhirnya terdampar menjadi kepala Dinas Pendidikan suatu kabupaten di Lampung.
Dengan visi dan pengalamannya pada berbagai organisasi, GV menjadi pejabat yang egaliter, tak terbelenggu pada birokrasi struktural hingga akhirnya menjadi ketua dan penggagas organisasi guru non-mainstream.
Baca juga: Sekdaprov Fahrizal Tutup Pekan Raya Lampung 2023
Dia membawa iklim kebebasan itu kedalam birokrasi pemerintahan formal. Tentu saja kegoncangan terjadi dimana-mana. Mereka yang tidak siap berubah menjadi terkaget-kaget.
Bahkan tidak sedikit kepala sekolah menjadi bingung, karena harus bekerja bukan sebagai gaya pegawai negeri, tetapi bergaya lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Ada satu kebijakan GV yang sampai saat ini mengesankan saat menjadi kepala Dinas Pendidikan. Dia tidak mengijinkan tenaga pengajar daerahnya mutasi keluar daerah. Beliau hanya mau menerima mutasi masuk.
Akibatnya selama periodesasi beliau jumlah tenaga pengajar mendekati rasio ideal. GV tidak peduli akan nota pejabat, atau sahabat; keputusan yang diambilnya dihadapi dengan busungan dada apapun resikonya.
Dasar GV, kalau tidak memiliki nilai tambah bukan GV. Kebijakan kepala sekolah harus melayani selama 24 Jam terhadap apapun kepentingan sekolah dan masyarakatnya.
Baca juga: Perindag Lampung Kebut SIInas 1.000 Industri Kecil
Tentu saja kerja beliau tidak pernah mau duduk manis di kantor, tetapi menggunakan sepeda motor khusus lapangan bergerak terus memastikan apakah pelayanan pendidikan di daerahnya sudah baik.
Bisa dibayangkan, di daerah perbatasan dengan provinsi tetangga, paling jauh dari Kota Bandarlampung, Dinas yang dipimpinnya betul-betul menjadi lokomotif pendidikan di daerahnya. GV telah meletakkan mailstone di kabupatennya.
Kekhasan GV saat menjadi kepala dinas adalah selalu menggunakan seragam Pramuka, tentu saja sangat sesuai dengan Dasa Dharma sebagai tuntunan Pramuka dalam berperilaku. Sepertinya GV ibarat ikan bertemu air, bergerak liar menuju mutu pendidikan yang lebih baik.
Sudah karakternya, GV selalu antusias melakukan apa pun terkait pendidikan. Walau, banyak anak buahnya yang harus terbirit-birit mengejarnya di belakang. Kini, dirinya menjadi kepala Sekretariat DPD RI Lampung, namun tetap, setiap diajak bicara soal pendidikan, andrenalinnya selalu memuncah.
Di Sekretriat DPD RI Lampung, GV jadikan "Rumah Inspirasi" bagi siapapun. Dana kegiatan patungan ala kadarnya buat minum dan kue dari para anggota DPD RI Lampung. Dengan dana ala kadarnya, GV menghidupkan kantornya menjadi tempat saling silang inspirasi.
Sekretariat DPD RI jadi hidup. Dia jaga betul denyut nandi kehidupan berdemokrasi. Lugas dan tegas, beliau mengundang siapapun dengan catatan surat undangan: “Kami tidak menyediakan uang transpor.”
Baca juga: Massa Bakar Rumah Karena Pemiliknya Aniaya Warga Anak Tuha
Hanya orang-orang yang gila akan kemajuan negeri ini yang mau hadir, dan itu sekaligus saringan yang dibuat GV memisahkan antara sampah dan barang berharga.
GV juga menjadi follower banyak media sosial yang ada dijagad maya, komentar-komentarnya bergaya LSM menjadi kekhasan baginya. Oleh karena itu, beliau adalah teman yang mengasyikkan untuk diskusi apa saja, asal berguna untuk Lampung dan Indonesia.
GV lebih LSM dari LSM sesungguhnya. Pensiun sebagai aparatur sipil negara mungkin bagian dari proses alami, namun orang seperti dirinya tidak akan bisa pensiun manakala negeri ini masih ada ketimpangan.
GV setali tiga uang dengan HBM, mereka adalah mahluk penambal kesenjangan di antara kita, sekalipun tampaknya pekerjaan itu “mustahil”; tetapi dalam kemustahilan selalu ditemukan kenyamanan.
Menjadi penggerak sudah GV jabani, sebelum pemerintah memiliki program penggerak. Merdeka Belajar sudah GV jalankan jauh sebelum pemerintah pusat ber-woro-woro.
Untuk menjadi penggagas tidak harus guru besar (apalagi hanya besar mulut), namun gagasan besar bisa dilakukan siapa saja yang memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk negeri ini. .
Selamat berjuang dijalanmu Mas GV, semoga Tuhan selalu melindungi dan memberikan kemudahan atas segala urusan-mu. Di depan sana, masih banyak onak dan duri yang menanti ayunan sabit-mu.
* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
