Helo Indonesia

TACB Kuak Jejak Musyawarah Adat Lampung Sejak Era Megalitikum

Herman Batin Mangku - Hiburan -> Seni Budaya
Minggu, 4 Februari 2024 13:48
    Bagikan  
TACB
Helo Lampung

TACB - Arkeolog Museum Lampung I Made Giri Gunadi dan Anahori Djausal (Foto BBM/Helo)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Budaya musyawarah yang masih lestari pada prosesi upacara adat masyarakat Lampung hingga kini diperkirakan memiliki jejak sejak masa Kebudayaan Megalitik sekira 3000 tahun lalu, sejak Megalitikum atau Zaman Batu.

Analisa ini setelah Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Lampung melihat beberapa batu yang membentuk susunan atau formasi seperti Situs Batu Melingkar di dalam kawasan Batu Bedil, Kecamatan Pulaupanggung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

Di dalam kawasan tersebut, ada delapan batu yang permukaannya relatif datar seperti altar batu atau dolmen. Salah satu batu semacam altar tempat duduk diapit dua batu tegak yang lebig tinggi di kiri dan kanannya (menhir).

Susunan batu melingkar tersebut sudah ada sejak ditemukannya Prasasti Batu Bedil oleh Friedrich W. Funke, seorang etnograf berkebangsaan Jerman pada tahun 1953. Funke menyebut prasasti tersebut dengan nama Batu Surat.

Tak jauh dari kawasan ini, sekitar 1-2 kilometer, ada sembilan batu serupa yang juga tersusun di tengah perkebunan kopi warga, Dusun Pulauapus, Pekon Sumber mulya, Kecamatan Pulaupanggung.

Budayawan yang juga Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Lampung Anshori Djausal menduga fungsi batu-batu altar membentuk formasi sejak Zaman Batu itu merupakan tempat musyawarah para tokoh atau pemimpin kawasan permukiman masyarakat purba.

Kebudayaan musyawarah itu agaknya telah ada sejak Zaman Megalikum, 3000 lebih tahun lalu yang jejaknya masih terlihat pada upacara-upacara atau prosesi adat masyarakat Lampung saat ini, ujarnya kepada Helo Lampung ketika berkunjung ke Situs Batu Bedil, Rabu (31/1/2024).

Di lokasi yang sama, Arkeolog Museum Lampung I Made Giri Gunadi mengatakan sangat mungkin fungsi bebatuan melingkar itu. Hanya, sekarang, duduknya untuk musyawarah di dalam sessat. Dulu, Zaman Batu, tempatnya seperti ini, ujarnya menjelaskan batu melingkar di komplek Batu Bedil.

"Dulu sudah diatur duduknya, sama dengan masyarakat Lampung dalam acara-acara adat saat ini, siapa yang duduk di sana, duduk di sini, sudah ditentukan, bahkan dilakukan pemeriksaan tempat duduk," katanya.

Soal jumlah batunya, sembilan itu arah angin, tengahnya jadi pusat, ciri khas Tantratasana, karena pengaruh Tantrayana sangat masif sekali masa itu. Tantra atau Tantrayana adalah ajaran Buddha yang berkembang dari ajaran Buddha Mahayana.

Masih banyak yang belum terungkap dari peninggalan orang Lampung pada Zaman Batu, jauh sebelum masuknya Islam. Di Kabupaten Tanggamus saja, ada sejumlah situs, antara lain Situs Megalitik Batu Gajah, Batu Kerbau, dan masih berserakan lagi situs-situs lainnya. (HBM)


,

 - 

Tags