Helo Indonesia

50 Pusaka Jalani Ritual Jamasan dari Mata Air Tuk Lanang DTW Curug Sewu

Ajie - Ragam
Kamis, 10 Agustus 2023 22:42
    Bagikan  
50 Pusaka Jalani Ritual Jamasan dari Mata Air Tuk Lanang DTW Curug Sewu

Prosesi Jamasan Pusaka di DYW Curug Sewu Patean. Foto-foto: Anik

KENDAL, HELOINDONESIA.COM - Ritual Jamasan 50 pusaka dilakukan Paguyuban Tosan Aji Kendal (Panji) di destinasi Daya Tarik Wisata (DTW) Curug Sewu Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Jateng, Kamis 10 Agustus 2023. Jamasan Pusaka Nusantara dilakukan dengan mengambil air dari mata air Tuk Lanang DTW Curug Sewu.

Ritual Jamasan Pusaka diawali dengan doa bersama, selanjutnya para pemilik pusaka berjalan mengambil air dari sumber mata air Tuk Lanang untuk kemudian digunakan sebagai jamasan pusaka.

Sekitar 50 pusaka yang dilakukan penjamasan diantaranya berupa keris, tombak hingga kujang. Tosan Aji memiliki makna senjata zaman dahulu yang terbuat dari besi, logam, atau baja serta memiliki nilai dan tuah.

Ketua Paguyuban Tosan Aji Kendal, Arif Budi Prasetyo menjelaskan, kegiatan Jamasan Pusaka Nusantara ini dilaksanakan setiap tahun di bulan Suro atau Muharram. Selain sebagai bentuk nguri-uri kebudayaan Jawa, Jamasan Pusaka mrrupakan bentuk perawatan sebilah pusaka.

Tujuannya untuk membersihkan kotoran-kotoran yang mungkin selama ini menempel. Karena tosan aji ini berbahan dasar besi dimana banyak karat dan kotoran yang menempel. Sehingga perawatan rutin minimal satu tahun sekali," terang Arif.

Menurut Arif, Jamasan Pusaka selalu dilakukan pemilik pusaka minimal setiap satu tahun sekali. Dan tahun ini dilaksanakan Jamasan Pusaka Nusantara yang juga dihadiri para pemilik pusaka dari luar daerah.

"Kalau di DTW curug Sewu ini baru tahun ini dilaksanakan. Rencananya bakal menjadi agenda tahunan. Harapan kami pecinta Tosan Aji, terutama di wilayah Kabupaten Kendal ini bisa semakin tergugah untuk melestarikan warisan budaya nusantara," terang Arif.

600 Tahun

Sesepuh Paguyuban Tosan Aji, Yono menjelaskan, dari 50 pusaka yang dilakukan jamasan diantaranya keris, tombak, kujang dan lain sebagainya. Bahkan juga terdapat keris pusaka yang berusia sekitar 600 tahun dari Kerajaan Mataram Pertama yakni Keris Sabuk Inten Luk 11.

"Pusaka-pusaka ini ada filosofinya. Kalau Keris Sabuk Inten Luk 11 ini dipakai anak raja atau setingkat punggawa kerajaan," terang Yono.

Ditambahkan, sebelum dilakukan jamasan pusaka, ada prosesi doa bersama dan ritual sesaji berupa nasi tumpeng, palawija, ingkung, bunga, mata air yang merupakan simbol kehidupan manusia.

"Prosesnya tidak sembarang mencuci, ada ritual yang kita lakukan terlebih dahulu. Terus kita juga lakukan ritual pengambilan air dari mata air Tuk Lanang untuk mencuci pusaka," ungkapnya.

Sementara Kepala Pengelola DTW Curug Sewu, Aryo Widianto menyambut baik adanya kegiatan Jamasan Pusaka Nusantara. Dirinya berharap kegiatan tersebut bisa menjadi agenda tahunan yang digelar di DTW Curug Sewu.

"Kita ingin agenda nguri-uri  atau melestarikan budaya ini menjadi kalender event tahunan. Jadi kita punya dua kalender event yaitu Padusan dan Jamasan Pusaka. Karena ini nguri-uri budaya jawa yang harus kita lestarikan dan tentunya kita tetap merangkul potensi-potensi lokal," tandasnya. (Anik)