HELOINDONESIA.COM - Pengamat politik Yunarto Wijaya menilai dukungan politikus PDI-P, Budiman Sudjatmiko kepada Prabowo Subianto sebagai bakal calon presiden atau capres justru merugikan.
Pasalnya menurut Yunarto, publik kemungkinan akan mengkaitkan nama Budiman dengan peristiwa"98". Budiman kata dia, seperti mendapatkan perhatian dengan pembahasan kasus "98". Dampaknya lanjut dia, peran Prabowo juga terangkat kembali.
Budiman, dikatakannya, dalam beberapa forum menyiarakan kembali tentang kasus tersebut yang berkaitan dengan seputar penculikan aktivis dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
"Kasus 98, penculikan aktivis kembali bunyi setelah Budiman mendapatkan panggung. Jadi, kalau ditanya siapa yang mendapatkan narasi positif di sini saya kita tidak ada," ujar Yunarto dalam keterangannya,dikutip Senin (28/8).
Selain itu, Yunarto menilai, dukungan tersebut cara Budiman untuk mencari panggung politik. Pasalnya, Budiman sudah mulai meredup di PDIP setelah kalah sebagai caleg pada Pemilu 2019. Sementara bagi Prabowo, pembentukan Prabu (Prabowo-Budiman) merupakan blunder.
Baca juga: Demi Nonton Konser God Bless, Ganjar Pernah Jual Celana dan Jaket Milik Orang Tua
"Kalau saya pribadi melihatnya ini blunder untuk Pak Prabowo kalau kita baca monitoring dari pemberitaan terkait Budiman Sujatmiko, hanya Budiman yang untung, Prabowo yang rugi," kata Yunarto.
Dia juga menilai karena perannya makin tidak signifikan bagi partai meskipun telah menjadi anggota sejak lama. Budiman pun disinyalir mula mencari kendaraan baru untuk kembali eksis di dunia politik.
"Budiman Sudjatmiko menang kita tahu sinarnya sudah redup di PDI Perjuangan karena pada tahun 2019. Dia kalah untuk maju dalam Pileg. Tetapi dalam konteks mendapatkan panggung politik dan dia sekarang mendapatkan kendaraan baru dan panggung baru," tutur Yunarto.
Baca juga: Resmi Beroperasi, Segini Tarif Promo LRT Terintegrasi yang Baru Diresmikan Presiden Jokowi
Budiman akhirnya sudah tidak punya cara lajn. Dia nekad berbeda haluan dengan PDIP untuk merapat ke kubu Prabowo. Dengan resiko kehilangan keanggotaannya di PDI-P.
Namun, Yunarto menekankan kembali keputusan Prabowo untuk membuka pintu kepada Budiman yang justru merugikan bagi dirinya. Paslalnya secara tidak langsung, kasus yang menyudutkannya mulai diperdebatkan kembali sehingga membuat publik kembali sadar.
"Dengan adanya isu Budiman Sujatmiko, yang membayang-bayangi selalu Prabowo Subianto naik turun terkait dengan 98 yang penculikan aktivis kembali naik," tandasnya.
