Helo Indonesia

Rektor Dihantam, Mahasiswa Dijegal, Aktivis Demokrasi Kota Tangerang Ajak Semua Parpol Lawan Dinasti Golkar

M. Haikal - Nasional -> Politik
Minggu, 5 Mei 2024 19:33
    Bagikan  
Pilkada Kota Tangerang
Foto: Heloindonesia

Pilkada Kota Tangerang - Aktivis pro demokrasi kota Tangerang mengajak semua parpol untuk melawan Golkar sebagai biang dinasti politik di Provinsi Banten.

HELOINDONESIA.COM - Politik dinasti masih terus menggurita di Provinsi Banten, terutama di Kota Tangerang.

Dan Golkar menjadi salah satu partai yang harus dilawan karena telah memelihara politik dinasti selama bertahun-tahun di Provinsi Banten.

Pernyataan ini disampaikan aktivis dari Poros Informasi Masyarakat Santo Nainggolan dan aktivis demokrasi Topan Bagaskara dalam diskusi bertema "Dilematis Pilkada, Memilih Pemimpin Bermodal Warisan atau Popularitas" yang digelar di sebuah kafe Kawasan Banjarwijaya pada Minggu (5/5/2024) sore.

"Mau nggak mau ke sana (Golkar) juga. Kenapa Golkar? Saat ini kan masih menguasai Banten, khususnya kota Tangerang. Karena belum ada (partai lain) sampai saat ini. Kalau untuk flashback itu semuanya dari Golkar," ungkap Santo.

Baca juga: Dua Aktivis Lampung Siap Tumbangkan Bacaleg Kebon

Meski demikian, Santo tak menyalahkan Golkar dan dinastinya. Tapi sistem yang dibangun pada dinasti itu yang harus dikritisi.

"Kenapa? Namanya dinasti sah-sah aja kalau bicara anak ataupun istrinya untuk maju ke tahapan (Pilkada) selanjutnya. Tapi sistem yang dibangun itu cara-caranya membuat masyarakat tidak ada pilihan lain," tegasnya.

Bahkan, lanjut Santo, Pilkada 2019 kemarin itu hampir melawan kotak kosong.

"Nah ini yang mau kita munculkan. Yuk demokrasi ini kita hidupkan Kembali. Janganlah sistem-sistem zaman kerajaan yang turun-temurun terus dikuasai," ucap Santo.

Santo mengajak parpol-parpol lain untuk tidak ragu memunculkan ader-kadernya yang terbaik untuk melawan politik dinasti Golkar.

Baca juga: Kemendagri Tekankan Sinergisitas Antar-Pemda Mengoptimalkan Pemungutan Pajak Daerah dan Opsen Pajak Daerah

Karena itulah, lanjut Santo, tunjukkan kemampuan daripada calon-calon partai politik selain Golkar.

"Partai-partai janganlah terlalu banyak berselingkuh ataupun cawe-cawe dengan yang lain Dorong kadernya manfaatkan kehadirannya. Bicara kadarisasi, itulah fungsi partai dalam mengkaderisasi kader-kadernya untuk menjadi pemimpin," ujarnya.

Menurut Santo, banyak calon pemimpin ideal di kota Tangerang yang bisa dimajukan selain dari kroni dan gurita dinasti Partai Golkar.

"Artinya yang ada di Kota Tangerang siapa pun itu, oke selain Golkar. Kader dari PKS juga ada. Janganlah demi sikap oportunis ataupun pragmatis sehingga kader-kader yang sudah memang di bawah Demokrat, PDIP, Gerindra untuk didorong kadernya melawan dinasti Golkar," paparnya.

Sementara sktivis demokrasi dan mahasiswa, Topan Bagaskara mengatakan bahwa tak hanya di Kota Tangerang, secara nasional bangsa ini mengalami kemunduran demokrasi.

Baca juga: Kebijakan ‘Zero Delta Q’ Jadi Gagasan Indonesia di World Water Forum ke-10

"Kemungkinan menuju otritarianisme. Kedua aspek ini menyebabkan masyarakat kebingungan. Kita memilih pemimpin warisan atau bermodal? Kalau warisan akan menjadi dinasti. Dinasti ini muncul dari keluarga yang ingin mempertahankan kekuasaan," jelasnya.

Selain itu,Bagas nambahkan, munculnya inasti lantaran mesranya kaum kapital dengan pemerintahan yang berkuasa.

"Dampaknya, pemimpin di belakangnya ada proyek yang tidak mungkin dilepaskan. Ketika pengusaha dan penguasa berkoalisi rakyat yang menderita. Kita lihat Rempang, Papua, tanah adat di Kalimantan, di Jawa Tengah dan banyak lagi, muncul penindasan terhadap rakyat akibat kolaborasi antara pengusaha dan penguasa," jelasnya.

Bagas mengatakan, munculnya politik dinasti karena parpol saat ini telah gagal pada kaderisasi atau kader elektoral.

Baca juga: Tragedi Pesta Miras di Banjarmasin, Teman Minum Kepalanya Bocor Dipukul Botol oleh Warga Alalak

"Menyerahkan pada artis, mengalahkan kaderisasi," tambah Bagas.

Menurut Bagas, kemunduran demokrasi ini terjadi ejak tahun 2022.

"Sistem demokrasi tidak menuju pada sistem yang bijak. Di Kota Tangerang apa yang terjadi? Mereka menghantam para rektor, teman-teman kita dijegal. Demokrasi kita mundur. Demokrasi mundur total, dalam keadaan koma. Belum pada tahan bunuh diri sih," tandasnya.