LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Massa aksi damai Aliansi Masyarakat Lampung Tolak Pemilu Curang (AML-TPC) menemui enam komisioner Bawaslu Lampung. Mereka menyatakan Pemilu 2024 curang terstruktur sistematis dan masif (TSM).
Ketika massa yang didominasi emak-emak hendak ke Kantor Bawaslu Lampung. Mereka terhalang kawat berduri yang dipasang Polresta Bandarlampung di Jl. Pulau Morotai No.89, Jagabaya III, Kec. Sukabumi, Kota Bandarlampung, Jumat (1/3/2024).
Dari mobil pikap komando aksi, seorang orator meminta barikade dibuka agar mereka bisa menyampaikan aspirasinya ke Bawaslu Lampung.
Setelah Korlap Ustadz Firman dan Gunawan Parikesit melakukan negosiasi dengan Kapolresta Kombes Pol Abdul Waras dan Kabag Ops Kompol David J Sianipar, kawat berduri dibuka agar mereka bisa bertemu para komisioner Bawaslu Lampung.
Akhirnya, pihak Polresta membuka tirai kawat berduri untuk bertemu dengan Bawaslu Provinsi Lampung. Mereka diterima enam komisioner BawaslunLampung di Ruang Rapat Pepadun, yakni Ketua Bawaslu Iskardo P Panggar dan Tamri, Suheri, Ahmad Kohar, Gistiawan, Hamid Badrul, Bukhori.
Pantauan Heloindonesia, ratusan peserta aksi yang dipimpin Bunda Merry, Habib Umar, dan Gunawan Parikesit menghimbau peserta aksi untuk tetap tertib dan menjaga kenyamanan serta keamanan bersama agar aksi damai ini tidak ditunggangi pihak lain.
Di KPU Provinsi Lampung, AML-TPC mendesak DPR RI menggelar hak angket soal carut-marut proses Pemilihan Umum 2024.
Pimpinan Erwan Bustami, komisioner KPU Provinsi Lampung, Kasubdit Polda Lampung menerima perwakilan massa aksi, yakni Gunawan Parikesit, Firmansyah, Bunda Meri, serta Ustadz Firman.
Ada dua pertanyaan Bunda Merry kepada komisioner KPU:
1. Bagaimana proses usia 38 tahun dapat mencalonkan diri jadi wakil presiden padahal umur batas calon presiden dminimal 40 tahun.
2. Pertanyaan kedua, ada apa dengan Sirekap KPU RI? "Menurut informasi yang kami dengar dari IT penghitungan suara tidak bagus ada indikasi kecurangan," ujarnya.
Suara para caleg turun naik, padahal sudah jelas pada rekapitulasi suara itu naik, tapi pada saat C1 pleno suara caleg maupun capres bisa turun. "Kami minta kepada KPU lebih tegas dan mengawasi apakah ada permainan atau kecurangan," Katanya.
Ratusan personel Polresta Bandarlampung mengerahkan ratus personel dan satu unit mobil water cannon menjaga ketertiban aksi. (Hajim)
-
