Helo Indonesia

Menteri Perhubungan Ungkap Alasan Kenapa Penggunaan Transportasi Massal di Ibu Kota Belum Optimal

Senin, 14 Agustus 2023 19:22
    Bagikan  
Presiden Jokowi dan Manteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi.
twitter / @jokowi

Presiden Jokowi dan Manteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. - Presiden dan lainnya. (Jokowi menjajal LRT Jabodebek bersama Menhub Budi Karya, Mentrri BUMN Erick Thohir.(Foto: Twitter / @jokowi)

HELOINDONESIA.COM - Kepadatan kendaraan pribadi menjadi salah satu penyebab tingginya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

Untuk itu, salah satu arahan Presiden Jokowi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengurangi penggunaan kendaraan berbasis fosil dan segera beralih ke transformasi massal, seperti Lintas Raya Terpadu (LRT) dan Moda Raya Terpadu (MRT).

“Saya kira bulan ini LRT segera dioperasionalkan, MRT juga sudah beroperasi, kemudian kereta cepan bulan depan juga sudah beroperasi dan juga percepatan elektrifikasi kendaraan umum dengan bantuan pemerintah,” ujar Jokowi dalam Rapat Terbatas di Komplesk Istana Meredeka, Senin (14/8).

Baca juga: Jokowi Minta PJ Heru Dorong Perkantoran Terapkan WFH Atasi Polusi Udara

Menanggapi hal itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pemerintah terus mengimbau kepada masyarakat untuk beralih menggunakan angkutan massal perkotaan.

Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi tingkat kemacetan dan juga polusi udara, terutama di wilayah Jabodetabek.

Ia menambahkan, Jakarta sudah memiliki banyak transportasi yang beragam. Namun sayangnya, beberapa transportasi umum itu justru beroperasi dengan kurang optimal untuk menarik masyarakat meninggalkan kendaraan pribadinya.

Salah satu contoh yang diambil adalah masih minimnya pengguna MRT Jakarta yang terlihat dari okupansinya yang masih sangat minim.

Baca juga: Polusi Udara di Jakarta Semakin Parah, KLHK dan Kementerian Terkait Akan Buat Standarisasi Cerobong Asap Industri

"Okupansi daripada MRT itu belum maksimal. Jadi tercatat mestinya bisa 180 ribu per hari, sekarang MRT itu baru 80 ribu," ujar Budi Karya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (14/8).

Budi Karya menyebut, penyebab kurang optimalnya penggunaan transportasi umum di Jakarta karena adanya masalah pada first mile dan last mile transportasi umum di Jakarta.

Maksudnya, masyarakat masih sulit untuk melakukan perpindahan antar moda. Dalam kasus MRT Jakarta misalnya, untuk menuju stasiun MRT dan berjalan menuju tujuan dari stasiun MRT belum lengkap transportasi antar modanya.

Hal ini membuat masyarakat banyak yang tidak mau naik transportasi umum dan meninggalkan kendaraan pribadi.

Baca juga: Jokowi Akui Kualitas Udara di Jabodetabek Sangat Buruk, dan Perintahkan Rekayasa Cuaca Memacing Hujan

"Artinya apa? Ada sesuatu. First mile dan last milenya itu belum jalan. Baik secara individual maupun secara kolektif harus dilakukan, jadi satu sisi memang mekanisme ini harus kita pikirkan berkaitan dengan antar moda," ungkap Budi Karya.

Budi Karya juga menyoroti adanya kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) dan pembagian jam masuk kerja yang diberlakukan di wilayah DKI Jakarta.

Menurutnya, hal ini dapat mengurangi tingkat kepadatan moda transportasi umum pada jam-jam sibuk.

“Karena kalau kita lihat angkutan massal seperti MRT atau BRT itu jam-jam sibuk selalu penuh, tetapi saat jam 10 atau jam 11 itu kurang. Jadi, kalau ada pembagian jam masuk ditambah kebijakan WFH berarti kapasitas dari angkutan massal perkotaan ini naik,” imbuhnya.