BANJARMASIN, HELOINDONESIA.COM - Organisasi Masyarakat (Ormas) Laung Kuning Banjar (LKB) tengah merencanakan sebuah acara yang menarik, yaitu "Aruh Ganal", yang akan diselenggarakan pada Sabtu (27/4/2024).
Tradisi yang telah lama menjadi bagian budaya masyarakat Banjar ini akan diadakan di Gedung Sultan Suriansyah, dengan dihadiri oleh lebih dari 12.000 peserta, terdiri dari pengurus dan anggota Laung Kuning Banjar dari seluruh Pulau Kalimantan, serta undangan dari unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.
Ketua Pelaksana Acara Aruh Ganal Budaya Banjar, Irsa Setiawan, menyatakan bahwa acara ini juga akan menjadi bagian dari perayaan milad kedua Ormas Laung Kuning Banjar.
“Saat ini, sudah terbentuk 57 Dewan Pengurus Cabang (DPC) di tingkat Kabupaten maupun Kota di seluruh Kalimantan,” kata Irsa, Kamis (18/04/2024).
Dalam acara Aruh Ganal Budaya Banjar, setiap DPC Laung Kuning akan menampilkan beragam seni budaya khas Suku Banjar, seperti Kuntau, Madihin, Sinoman Hadrah, dan berbagai tarian tradisional Suku Banjar lainnya.
“Tujuan utamanya adalah untuk merayakan milad ke 2 Ormas kami sambil tetap melestarikan adat dan budaya masyarakat Banjar,” tambahnya.
Ini adalah ringkasan mengenai seni dan budaya yang ada dalam masyarakat suku Banjar:
Kuntau: Seni bela diri tradisional masyarakat suku Banjar, berasal dari Kalimantan Selatan. Atraksi Kuntau sering ditampilkan dalam berbagai acara seperti perkawinan, hajatan, dan acara budaya lainnya.
Madihin: Salah satu bentuk sastra lisan Banjar yang berasal dari Kalimantan Selatan. Madihin menghadirkan syair-syair dalam bentuk puisi yang merujuk pada tradisi madah dalam sastra Indonesia.
Sinoman Hadrah: Gabungan antara "Sinoman" yang merupakan kelompok qasidah pria dalam menyambut tamu atau acara besar, dan "Hadrah" yang menggunakan teknik musik pukul dengan rebana dan bass. Sinoman Hadrah adalah bagian dari tradisi musik dan penyambutan dalam budaya Banjar.
Tari Baksa Kembang: Tarian ini melibatkan penari yang menggunakan properti seperti selendang dan mahkota bernama gajah gemuling, yang dihiasi dengan kembang bogam dan anyaman daun kelapa. Penari membawa sepasang kembang bogam yang terdiri dari rangkaian kembang melati, mawar, kantil, dan kenangan.
Dengan keberagaman seni dan budaya seperti ini, masyarakat suku Banjar terus memperkaya dan melestarikan warisan budaya mereka.
