Helo Indonesia

Togog di Wajah Politik Saat Ini

Herman Batin Mangku - Opini
Kamis, 20 Juni 2024 20:45
    Bagikan  
Gufron Aziz Fuadi
Gufron Aziz Fuadi

Gufron Aziz Fuadi - Gufron Aziz Fuadi

Oleh Gufron Azis Fuandi

NAMANYA Togog. Ia salah satu tokoh wayang dalam cerita pewayangan Jawa. Tokoh yang mulutnya sangat lebar dan bibirnya dower sejatinya adalah seorang dewa yang merupakan anak dari Sang Hyang Wenang. Namanya adalah Batara Antaga dan merupakan kakak tertua dari Semar (Batara Ismaya) dan Batara Guru (batara Manikmaya).

Togog sebagai nama panggung boleh jadi berasal dari Bahasa Arab, thagha. Kata thagha yang juga akar kata dari thaghut, secara bahasa berarti melanggar batas, berbuat sewenang-wenang, kejam atau menindas, melebihi ketentuan yang ada, meninggi dan melampaui batas dalam hal pengingkaran.

Diketahui Ephos Mahabharata mengalami beberapa perubahan yang dilakukan oleh kiyai/ulama dalang disesuaikan dengan budaya dan agama masyarakat Jawa dimana Islam sedang berkembang. Sehingga budaya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dihapuskan atau diganti.

Seperti perilaku poliandri semisal, dimana Dewi Drupadi yang dalam  versi India merupakan istri kelima orang Pandawa, dalam wayang Jawa berubah menjadi hanya istri Yudistira/Puntadewa. Termasuk diadakan nya Togog dan Semar serta punakawan lainnya.

Menurut wiracarita, konon, Sang Hyang Wenang mengadakan sayembara kepada anak-anaknya untuk menjadi penguasa Kahyangan. Sayembaranya adalah siapa yang bisa menelan dan mengeluarkan kembali Gunung Jamurdipa akan diangkat raja atau penguasa Kahyangan.

Saat sayambara dimulai, sebagai anak tertua,  Batara Antaga (Togog) mengambil giliran pertama. Ia mencoba untuk melakukannya, tetapi yang terjadi malah mulutnya robek dan jadi dower. Ini karena Togog terlalu memaksakan dirinya untuk menelan, padahal mulutnya tidak muat dan ilmu dan kekuatannya belum memadai. Tetapi serakah.

Giliran berikutnya adalah Batara Ismaya (Semar) yang melakukannya, Gunung Jamurdipa dapat ditelan bulat-bulat tetapi tidak dapat dikeluarkan lagi karena Semar tidak bisa mengunyah sebagai akibat dari giginya taring semua, maka jadilah Semar berperut buncit karena ada gunung di dalamnya seperti dapat kita lihat pada karakter Semar dalam wayang kulit.

Karena sarana sayembara (Gunung Jamurdipa) sudah musnah ditelan Semar maka yang berhak memenangkan sayembara dan diangkat menjadi penguasa kadewataan adalah Sang Hyang Manikmaya atau Batara Guru, anak bungsu dari Sang Hyang Wenang.

Sementara itu, Batara Antaga dan Ismaya diturunkan ke Marcapada atau dunia manusia untuk menjadi penasihat, dan pamong pembisik makna sejati kehidupan dan kebajikan pada manusia. Semar didampingi oleh Baging, Gareng dan Petruk dipilih dan ditugasi sebagai pamong untuk para satria berwatak baik (Pandawa).

Sedangkan Togog yang didampingi Bilung diutus sebagai pamong untuk para satria dengan watak buruk. Dalam perannya menjadi pamong untuk menasihati kesatria angkara murka. Bilung (Sarawita)  tercipta dari Hawa Nafsu Togog melalui sabda sakti dari Sanghyang  Wenang.

Sejatinya Togog adalah dewa yang baik tetapi mendapatkan tugas yang sangat berat, yaitu mengayomi para penguasa dan satria berwatak jahat, berjanji tapi palsu, serakah dan sewenang-wenang. Suka membuat peraturan yang ora umum demi kepentingan diri dan keluarganya.

Seperti ingin merubah masa jabatan dan syarat menduduki sebuah jabatan. Sebagaimana Kurawa yang ingin mengabadikan kekuasaannya di Hastinapura padahal seharusnya diserahkan kembali keturunan Pandu, Pendawa.

Kekuasaan atau kepemimpinan yang diberikan kepada orang yang tidak kapabel (tidak cakap, tidak mampu) dan tidak kredibel (tidak bisa dipercaya) hanya menunggu waktu kehancurannya. Hidup yang semakin sulit, lapangan pekerjaan yang semakin sempit, pajak semakin meningkat adalah diantara tanda-tanda amanah  tidak dipegang oleh orang yang ahli (kapabel dan kredibel).

فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Apabila amanah sudah hilang, maka tunggulah terjadinya kiamat”. Orang itu (Arab Badui) bertanya, “Bagaimana hilangnya amanat itu?” Nabi saw menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah terjadinya kehancurannya (kiamat).” (HR. Al-Bukhari).


Wallahua'lam bi shawab (Gaf)

 -