Helo Indonesia

Makan Dan Minum Sampai Muntah

Herman Batin Mangku - Opini
Rabu, 7 Februari 2024 16:41
    Bagikan  
KHAIRUDDIN
Helo Lampung

KHAIRUDDIN - (Foto Helo)

Oleh Khairuddin**

MAKAN dan minum sampai muntah, mengingatkan saya ketika di bangku kuliah bersama teman-teman 36 tahun silam. Saat menimba ilmu di kota tapis kala itu, saya dan teman-teman kos di sebuah asrama tak jauh dari kampus. Karena kurang mampu atau alih-alih berhemat, satu kamar dihuni dua mahasiswa. Makan seadanya, ke kampus jalan kaki adalah hal biasa bagi kami.

Suatu ketika, bapak dan ibu kos mengundang acara haul. Mendapat undangan terhormat dari sang juragan, bak mendapat durian runtuh. Betapa tidak, kami yang selalu akrab dengan mi instan, pada acara itu, sang juragan pasti menyiapkan hidangan atau makanan lengkap. Empat sehat, lima sempurna, kira-kira begitu.

"Alhamdulillah Pak Bos ngundang kita makan. Lumayan, perbaikan gizi," celoteh teman.

Haulpun digelar dan tibalah waktu makan. Dasar mahasiswa dengan ekonomi kembang kempis, belum saja disuruh tuan rumah makan, kami langsung menyerbu hidangan yang sejak awal menggoda perut.

Maaf, saking lapar dan mungkin agak rakus, hampir semua hidangan yang ada ludes kami lahap. Tak lama, haulpun usai dan kamipun kembali ke kamar masing-masing. Sejurus kemudian, terdengar suara muntah dari kamar sebelah.

Sejurus kemudian, teman yang muntah keluar kamar dan berseloroh jika tadi makan terlalu banyak, sehingga perut tak dapat menampung makanan yang dilahap.

"Itulah akibatnya. Mentang-mentang gratis, semua makanan dan minuman digasak. Muntah jadinya," teriak teman yang lain.

Saya tak menyangka, kenangan masa kuliah bersama teman-teman puluhan tahun silam, terjadi di kabupaten tempat saya tinggal. Tapi, yang terjadi di kabupaten saya, bukan karena rakyat muntah-muntah akibat kebanyakan makan dan minum suguhan sang penguasa, seperti kami mahasiswa masa itu.

Sebaliknya, penguasa dan wakilnya malah kekenyangan makan dan minum. Saking banyaknya anggaran buat mengisi perut sang penguasa, uangpun tersisa hingga ribuan juta.
"Masya Allah, uang sisa makan dan minum saja ribuan juta. Terus, yang dilahap berapa banyak,"gerutu teman.

Miris memang, di tengah himpitan ekonomi yang mendera rakyat saat ini, anggaran buat makan dan minum sang penguasa tersisa miliaran. Ironisnya, sisa anggaran itu terkuak setelah salah satu lembaga negara yang berkompeten memeriksa sejumlah pihak pengelola.

Dari pemeriksaan, terkuak anggaran satu tahun untuk makan dan minum sang penguasa dan wakilnya itu tersisa ribuan juta. Gegerlah negeri ini. Dan, pegiat anti korupsipun melapor ke aparat penegak hukum.

Diduga takut masuk bui, sang penguasa dan pendampingnya lalu mendatangi lembaga penegak hukum. Dan, uang ribuan juta sisa makan dan minum dikembalikan. Atas pengembalian itu, aparat penegak hukum menyatakan penyelidikan kasus ini dihentikan karena tidak terjadi kerugian negara.

Sontak, sejumlah pegiat anti korupsi dan praktisi hukum geram. Para pegiat dan praktisi hukum menuding aparat penegak hukum daerah itu telah mengangkangi lembaga diatasnya.
"Kalau begitu, korupsi saja beramai- ramai. Kalau ketahuan, ya dikembalikan," teriak salah satu praktisi hukum.

Kita berharap, kejadian ini tak akan pernah terjadi lagi di kolong langit ini. Apalagi, anggaran yang disiapkan itu untuk mengisi perut yang akan jadi darah daging. Tak dapat dibayangkan bagaimana nasib rakyat negeri ini, jika darah daging pemimpin negeri ini bersumber dari yang haram.

Makanlah sebelum lapar dari sumber yang baik. Berhentilah sebelum kenyang. Makan ya makan, minum ya minum, tapi jangan sampai muntah seperti kawan kuliah saya. Tabik.

* Wartawan Helo.Indonesia.Com.
* Sekretaris PWI Lampung Timur.

 - 

Tags