Helo Indonesia

Minim Baleho dan Artis, 4 Sajen agar Anies Menang

Herman Batin Mangku - Opini
Jumat, 2 Februari 2024 16:17
    Bagikan  
Gufron Aziz Fuadi
Gufron Aziz Fuadi

Gufron Aziz Fuadi - Gufron Aziz Fuadi

Oleh Gufron Aziz Fuadi*

SEORANG mantan ketua RT setelah selesai Salat Ba'diyah tiba tiba bertanya: Anies kira-kira menang nggak ya? Mengapa memangnya, tanya saya.
Ya soalnya, katanya, nggak ada iklannya di berbagai televisi.

Sementara yang gendut itu iklannya banyak banget diberbagai layar kaca.
Saya: Hehehe... yang itukan sumber duitnya dari mana mana, bukan lagi pengusaha kelas kakap tapi kelas kapal trawl yang nangkapin kakap dan segala ikan lainnya.

Kata orang, uangnya tidak ber-seri. Bisa untuk membeli cendekiawan bahkan ulama. Pak R, menang kalah itu, pada akhirnya, tidak tergantung pada banyaknya uang dan iklan.

Coba lihat Partai Superindo yang pada Pemilu 2019, saking banyaknya iklan di televisi bahkan anak-anak pun hapal lagunya, ternyata tidak lolos ke Senayan.

Itu juga Partai Mawar Putih yang bendera, baliho dan iklannya lebih banyak dibandingkan jumlah anggotanya, hasil survei nya juga belum lolos ke Senayan. Padahal raja kita sudah ngomong di televisi, Partai Mawar menang, pasti menang!

Coba lihat juga itu, Partai Kurang Sajen yang juga jarang banget iklan di televisi ternyata selalu lebih unggul dibandingkan dengan partai Parade Artis Nasional yang iklannya banyak dan dibintangi artis ngetop.

Oleh karena itu, jangan putus asa, tetapi yang perlu kita lakukan sekarang "sajen" alias syaratnya setidaknya ada empat, yakni:

PERTAMA

Kuatkan kepercayaan keimanan kita bahwa Allah sumber kekuasaan dan penentu keputusan akhir. Yang putusan-Nya, inkrah di atas inkrah.

Allah berfirman:
"Katakanlah (Muhammad), "Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (Ali Imran: 26)

Jadi biar kata iklan di televisi tidak ada, balihonya sangat sedikit, banner dan spanduknya banya dicopot, banyak acara yang izinnya tiba tiba dicabut, tetapi kalau Allah menghendaki tidak ada yang bisa menghalangi. Kalau Allah menghendaki, Kun fayakun, jadilah, maja terjadilah.

Allah berfirman:
"...Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” 
(Ar-Rum: 47)

KEDUA

Terus mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak ibadah, berdoa mendoakan kemenangan pilihan kita dan banyak amal shaleh kepada sesama. Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” 
(Al-Hajj: 77)

TIGA

Meminimalisir perbuatan maksiat. Karena pertolongan Allah akan terhambat bila makhluknya banyak atau gemar bermaksiat.

Khalifah Umar bin Khattab apabila akan melepas pasukan perangnya, baik yang ke arah Timur (Persia) maupun yang ke arah Barat (Romawi), Beliau selalu berwasiat agar para prajurit pasukan perang, menghindari maksiat sebanyak mungkin.

Karena Allah menolong kita disebabkan oleh perbuatan maksiat yang mereka lakukan. Jadi kalau mereka bermaksiat (seperti menipu rakyat, membeli suara rakyat dan kong x kong dengan panitia) dan kalian ikut ikutan maksiat, maka kalian akan kalah.

Karena jumlah logistik mereka lebih banyak, persenjataan mereka lebih lengkap dan pasukan mereka lebih banyak.

Kalau membayangkan wasiat Khalifah Umar tersebut, sekarang ini seolah olah uang dan logistik yang kita kumpulkan dengan susah payah, menjual ini dan itu serta hutang sana dan sini dihadapan mereka bagaikan recehan, sehingga tidak layak dibandingkan dan ditandingkan. Nggak level.

Perbuatan maksiat yang paling harus dihindari adalah syirik, seperti pergi meminta tolong dukun dan menggunakan sihir. Karena itu perbuatan syirik. Dan syirik adalah dosa besar yang paling besar di antara dosa-dosa besar lainnya. Dosa akibat perbuatan syirik ini tidak memperoleh ampunan dari Allah. (Lihat An-Nisa': 48).

Para aktivis dakwah mungkin tidak melakukan maksiat seperti diatas tetapi cukup dianggap bermaksiat bila melakukan hal yang mubadzir atau makruh.

Seorang ustadz senior mengatakan bagi seorang aktivis, harus melihat sesuatu yang sunah untuk orang pada umumnya adalah kewajiban baginya.

Sehingga membaca Alquran 1 juz perhari, shalat malam, doa dan munajat dan amalan Sunnah lainnya harus dipandang wajib untuk dirinya sendiri. Dan meninggalkan hal tersebut harus dilihat sebagai kemaksiatan yang harus dihindari.

Hal ini karena seorang aktivis adalah turbin penggerak. Seorang penggerak tidak akan mampu menggerakkan orang lain bila tidak memiliki energi lebih besar dibandingkan dengan yang akan digerakkan. Seorang aktivis dakwah harus memiliki qaulan tsaqila, perkataan yang berbobot!

EMPAT

Lakukan apa yang bisa kita lakukan dan kerjakan apa yang bisa kita kerjakan, meskipun itu kelihatannya sepele. Hp kita misalnya, bisa digunakan untuk mengajak dan mengingatkan saudara dan kenalan kita.

Jangan remehkan meskipun sehari hanya dapat menjangkau 5 dampai 10 orang, yang tidak sebanding dengan kerja buzzerp yang dibayar secara profesional. Insya Allah efek yang keluar dari hati lebih berkesan daripada yang bayaran.

Rasulullah Saw bersabda:
Ada seorang laki-laki yang melewati ranting berduri berada di tengah jalan. Ia mengatakan, ‘Demi Allah, aku akan menyingkirkan duri ini dari kaum muslimin sehingga mereka tidak akan terganggu dengannya.’ Allah Swt. pun memasukkannya ke dalam surga.
(HR. Muslim)

Bila menyingkirkan ranting berduri saja balasannya seperti itu, coba bayangkan bagaimana bila menyingkirkan oligarki berduri?

Wallahua'lam bi shawab
(Gaf)

 - 

Tags