LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM - Dari Gedung Sumpah Pemuda, tempat berkantornya pengurusan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Lampung di kompleks area Pusat Kebudayaan dan Olah Raga (PKOR) Way Halim Bandarlampung, tersiar kabar lunak.
Bahwa, tak lama lagi, tepatnya pada Rabu 24 Mei 2023 mendatang, agenda bersejarah pelantikan kepengurusan KONI Provinsi Lampung periode 2023-2027, bakal digelar di rumah dinas jabatan Gubernur Lampung, Mahan Agung, Jl dr Susilo, Kelurahan Sumur Batu, Telukbetung Utara, Bandarlampung.
Demi mempersiapkan sekaligus demi untuk menyukseskannya, pengurus harian KONI Provinsi Lampung telah pula menghelat rapat pemantapan persiapan pelantikan pada Rabu 17 Mei 2023 lalu, yang dipimpin oleh Ketua Harian KONI Provinsi Lampung Amalsyah Tarmizi mewakili Ketua Umum KONI Provinsi Lampung Arinal Djunaidi.
Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat KONI Provinsi Lampung, Gedung Sumpah Pemuda PKOR Way Halim Bandarlampung, antara lain memutuskan Sekretaris Umum KONI Provinsi Lampung Budi Dharmawan, sebagai ketua pelaksana pelantikan.
Dibahas lainnya, rencana pihak pelaksana mengundang hadir Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Ariobimo Nandito Ariotedjo atau lebih dikenal Dito Ariotedjo, sosok muda yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Menpora pengganti Zainudin Amali, 3 April 2023.
Selain, rencana pihak pelaksana untuk mengundang hadir Ketua Umum KONI Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, dan 15 Ketua KONI Kabupaten/Kota se-Lampung, serta pengurus organisasi induk cabang olahraga (cabor) tingkat provinsi.
Diketahui, KONI, satu-satunya organisasi yang berwenang dan bertanggung jawab mengelola, membina, mengembangkan dan mengkoordinasikan seluruh pelaksanaan kegiatan olah raga prestasi setiap anggota di Indonesia.
KONI memiliki tugas dan fungsi organisasi sebagaimana diamanatkan UU 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.
Tugas KONI yakni pertama, membantu pemerintah dalam membuat kebijakan nasional bidang pengelolaan, pembinaan, dan pengembangan olahraga prestasi pada tingkat nasional; kedua, mengoordinasikan induk organisasi cabor, organisasi olah raga fungsional, komite olah raga provinsi dan komite olah raga kabupaten/kota; ketiga, melaksanakan pengelolaan, pembinaan dan pengembangan olah raga prestasi berdasar kewenangannya; keempat, melaksanakan dan mengoordinasikan kegiatan multi kejuaraan olah raga tingkat nasional.
Fungsi KONI, pertama, meningkatkan kualitas manusia Indonesia dan membina serta memperkokoh persatuan kesatuan bangsa melalui pembinaan olahraga secara nasional; kedua, memasyarakatkan olah raga prestasi yang dibina oleh anggotanya untuk mencapai prestasi olah raga optimal.
Secara visioner, Visi KONI bertujuan untuk mewujudkan prestasi olah raga yang membanggakan di tingkat dunia, membangun watak, mengangkat harkat martabat dan karakter kehormatan bangsa dalam rangka ikut serta mempererat, membina persatuan dan kesatuan bangsa, serta memperkokoh ketahanan nasional.
Didukung tiga Misi KONI yakni pertama, menjadi induk organisasi yang profesional, modern dan mandiri; kedua, pembinaan usia dini dan peningkatan prestasi atlet yang terencana dan berkesinambungan; ketiga, turut serta mengembangkan Sport Science, Sport Industry dan Sport Tourism.
Dan demi untuk dapat secara komprehensif menggapainya, kabinet KONI 2019-2023 merumuskan lima strategi dan program.
Pertama, pembinaan olah raga prestasi (binpres), dengan mendukung persiapan cabor Olimpiade dan mengupayakan kompetisi sistematis (Liga Siswa Indonesia, Indonesia Marathon dan sebagainya).
Kedua, industri olah raga (sport industry), melalui pengembangan produk olah raga domestik (Patriot). Ketiga, Sport Science, dengan menerapkan serta mendorong pengembangan sport science dengan minimal kelas Asia dan lakukan sosialisasi berbagai keilmuan sport science.
Keempat, media dan kehumasan, dengan jalan mengembangkan media dan konten publikasi guna menyampaikan kegiatan olah raga serta memasyarakatkan olah raga prestasi (KONI TV, Gerakita.com, Sportlink), dan dalam bidang kehumasan melakukan komunikasi dengan berbagai pihak terkait olah raga prestasi.
Kelima, keorganisasian, dengan melakukan optimalisasi ragam bidang di KONI Pusat seperti Binpres, Diktar, Sport Science, Litbang, Organisasi, Media dan Humas, Mobilisasi Sumber Daya, Pengumpulan dan Pengolahan Data, Kerja sama Dalam dan Luar Negeri.
Bicara sejarah, per embrionik, KONI kelak, di masa lampau lahir cikal bakalnya sejak era pemerintah kolonial Hindia Belanda. Usai
induk organisasi cabor tertua di Indonesia, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) berdiri tahun 1930 di Yogyakarta, menyusul Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PELTI) di Semarang tahun 1935, dan sebelum Persatuan Bola Keranjang Seluruh Indonesia kini Persatuan Basket Indonesia (Perbasi) berdiri tahun 1940 di Jakarta, tahun 1938 lahirlah Ikatan Sport Indonesia (ISI) berkedudukan di Batavia (kini Jakarta).
Jadi satu-satunya badan olah raga bersifat nasional berbentuk federasi, ISI didirikan dengan maksud dan tujuan membimbing, menghimpun, dan mengkoordinir semua organisasi cabor yang ada saat itu, sempat menaja Pekan Olahraga Indonesia tahun 1938 (ISI Sportweek/Pekan Olahraga ISI).
Berlanjut di era rezim penjajah Jepang yang masuk ke Indonesia Maret 1942, ISI alami kesulitan beraktivitas selayaknya. Sangking sulitnya sepanjang Jepang menjajah hingga 1945, gerakan keolahragaan di Indonesia yang ditangani badan bernama GELORA (Gerakan Latihan Olahraga), tak banyak mencatatkan peristiwa olah raga penting di era rezim empunya kerja paksa Romusha ini.
Indonesia merdeka. Pascakemerdekaan, dengan menimbang situasi darurat masa revolusi fisik sehingga hanya dapat dihadiri para tokoh olah raga dari Jawa, kongres olah raga pertama digelar di Habiprojo, Solo, Jawa Tengah, pada Januari 1946, dan berhasil membentuk Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI).
Usai nama ISI dan GELORA tak terpilih jadi penamaan badan baru produk kongres, lalu terpilih nama PORI dengan pengakuan dari Pemerintah RI sebagai satu-satunya badan resmi persatuan olahraga yang urus semua kegiatan olah raga di Indonesia pengganti fungsi ISI.
Diketua-umumi Mr Widodo Sastrodiningrat, didampingi dua waketum Dr Marto Husodo dan Soemali Prawirosoedirdjo, sekretaris I Sutardi Hardjolukito, sekretaris II Sumono, bendahara I Siswosoedarmo, bendahara II Maladi, anggota Ny Dr E. Rusli Joemarsono.
Saat itu, 12 cabor terkonsolidasi, terbujur dari struktur Ketua Bagian, ditambah satu, Ketua Bagian Publikasi Moh Soepardi. Ke-12 Ketua Bagian itu Djuwadi (gerak jalan), GPH Bintoro (hockey), Maladi (sepak bola), Mr. Roesli (bola keranjang), Mr. Wongsonegoro (pencak silat), P. Sorjo Hamidjojo (tenis), Soejadi (renang), Soemali Prawirosoedirdjo (atletik), SP Paku Alam (panahan), Sudjirin Tritjondrokoesoemo (bulutangkis), Tjokro Atmodjo (anggar/menembak), dan Tony Wen (basket ball).
Sesuai fungsi, PORI jadi koordinator semua cabor, khusus urusi perhelatan olah raga dalam negeri. Dalam hubungan luar, misal Olimpiade dengan Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee/IOC), Presiden Soekarno tahun 1947 melantik Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI) yang diketuai Sri Sultan Hamengkubuwono IX, berkedudukan di Yogya, tak lama tahun sama berubah jadi Komite Olimpiade Indonesia (KOI).
PORI melebur ke KOI pada tahun 1951, KOI diterima jadi anggota IOC 11 Maret 1952. Tujuh tahun berlalu, pemerintah membentuk Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) pada 1959 guna siapkan pesta olah raga terbesar di Asia, Asian Games IV 1962, KOI jadi badan pembantu DAGI dalam relasi internasional.
Selanjutnya, pemerintah membentuk Komite Gerakan Olahraga (KOGOR) untuk siapkan pembentukan tim nasional Indonesia, top organisasi olah raga sebagai pelaksana teknis cabor bersangkutan pada 1961, lalu membentuk Departemen Olahraga (Depora) dengan menteri Maladi (1962), membentuk Dewan Olahraga Republik Indonesia (DORI) dan organisasi KOGOR, KOI, top organisasi olah raga dilebur didalamnya (1964).
Di tahun Gestapu, dibentuklah Sekretariat Bersama Top-top Organisasi Cabang Olahraga pada 25 Desember 1965 yang lantas mengusulkan mengganti DORI jadi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang mandiri, bebas dari pengaruh politik.
Pada 1966, Presiden Soekarno menerbitkan Keppres 143A dan 156A Tahun 1966 tentang pembentukan KONI pengganti DORI namun tak dapat berfungsi karena tak didukung induk organisasi cabor terkait situasi politik kala itu. Soeharto membubarkan Depora, dan membentuk Ditjen Olahraga dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Lalu, induk organisasi olah raga membentuk KONI pada 31 Desember 1966 dengan Ketua Umum Sri Sultan Hamengkubuwono IX. KOI sendiri, diketuai oleh Sri Paku Alam VIII.
Pada 1967, Presiden Soeharto mengukuhkan KONI dengan Keppres Nomor 57/1967. Ketua KOI Sri Paku Alam VIII mengundurkan diri, jabatan dirangkap Ketum KONI Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dengan Sekjen KONI MF Siregar dan Sekretaris KOI Soeworo.
Soeworo wafat, Sekretaris KOI dirangkap Sekjen KONI MF Siregar. Sejak itu AD/ART KONI mengatur di Musyawarah Olahraga Nasional (Musornas), KONI bak dua sisi mata uang dua sisi, ke dalam bertugas sebagai KONI, ke luar berstatus KOI. IOC mengakui KONI sebagai NOC Indonesia.
Pada 2005, Pemerintah dan DPR ketok palu pengesahan UU Nomor 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, memecah KONI jadi KON dan KOI. Menyusul, terbitnya Peraturan Pemerintah 16, 17, dan 18 Tahun 2007, peraturan pelaksana UU 3/2005.
KONI lantas helat Musornas Luar Biasa (Musornaslub) 30 Juli 2005, membentuk Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan menyerahkan fungsi KONI sebagai NOC Indonesia ke KOI kembali. Nama KONI tetap dipertahankan tidak diubah menjadi KON.
Pengingat, pucuk pimpinan tertinggi KONI, ketum pertama-ketujuh saat ini yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat 19 tahun kurun 1967-1986, diganti ketum dua periode Surono Reksodimedjo 1986-1994, sama dua periode Letjen TNI Purn Wismoyo Arismunandar medio 1995-2003, Jenderal TNI Purn Agum Gumelar kurun 2003-2007, ketum perempuan pertama Rita Subowo periode 2007-2011, Mayjen TNI Purn Tono Suratman (2011-2019), dan Letjen TNI Purn Marciano Norman (2019-2023).
Saat ini KONI memiliki anggota 38 KONI Provinsi, membawahi 514 KONI Kabupaten/Kota se-Indonesia, 73 organisasi induk cabor dan 7 organisasi fungsional.
Sekaligus guna mengakrabkan, berikut per abjad 73 cabor tersebut selengkapnya. Yakni, 1-10, Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI), Asosiasi Floorball Indonesia (AFI), Equestrian Federation of Indonesia (EFI),
E-Sport Indonesia (ESI), Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI), Federasi Hockey Indonesia (FHI), Federasi Hoki Es Indonesia (FHEI), Federasi Ice Skating Indonesia (FISI)
dan Federasi Kurash Indonesia (FERKUSI).
Lalu, 11-20, Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI), Federasi Olahraga Kabaddi Seluruh Indonesia (FOKSI), Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI), Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI), Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Federasi Triathion Indonesia (FTI), Federasi Yongmoodo Indonesia (FYI), Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI), Hapkido Indonesia (HI), dan Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (Ikasi).
Lalu, 21-30, Ikatan Motor Indonesia (IMI), Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI), Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI), Indonesia Beladiri Amatir Mixed Martial Arts (IBA MMA), Indonesia Jetsport Boating Association (IJBA), Indonesia Woodball Association (IWbA), Ju-jitsu Indonesia (JI), Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat), dan Kick Boxing Indonesia (KBI).
31-40, Modern Pentathlon Indonesia (MPI), Muaythai Indonesia (MI), Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (PABERSI), Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI), Perkumpulan Binaraga dan Fitness Indonesia (PBFI), Perkumpulan Sambo Indonesia (PERSAMBI), Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi), Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI), Persatuan Boling Indonesia (PBI).
41-50, Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi), Persatuan Cricket Indonesia (PCI), Persatuan Drum Band Indonesia (PDBI), Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (PERGATSI), Persatuan Golf Indonesia (PGI), Persatuan Gulat Amatir Seluruh Indonesia (PGSI), Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI), Persatuan Korfball Seluruh Indonesia (PKSI), PELTI.
51-60, Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin), Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi), Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI), Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI), Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (PORLASI), Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI), Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi), Persatuan Panahan Indonesia (Perpani), Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI), dan Persatuan Rugby Union Indonesia (PRUI).
61-73, Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI), PSSI, Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia (PSTI), Persatuan Senam Indonesia (Persani), Persatuan Ski Air dan Wakeboard Seluruh Indonesia (PSAWI), Persatuan Soft Tennis Indonesia (PESTI), Persatuan Squash Indonesia (PSI), Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI), Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina), Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia (Perkemi), Perserikatan Bisbol dan Sofbol Amatir Seluruh Indonesia (Perbasasi), Taekwondo Indonesia (TI), Wushu Indonesia (WI).
Lalu 7 induk organisasi olah raga fungsional dimaksud, Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC), Badan Pembina Olahraga Korps Pegawai Republik Indonesia (Bapor Korpri), Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (Bapomi), Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (Bapopsi), Perhimpunan Pembina Kesehatan Olahraga Indonesia (PPKORI), Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi), dan Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia (SIWO PWI).
Pun termasuk, di Lampung, KONI Provinsi Lampung, 15 KONI Kabupaten/Kota se-Lampung, dan sedikitnya 32 organisasi induk cabor tergabung di barisan KONI Lampung, termasuk empat cabor terbaru: berkuda, dance sport, petanque, sambo.
Berikut ke-32 induk organisasi cabor itu selengkapnya, yang kerennya, kesemua cabornya telah diperlagakan di perhelatan pesta olah raga terbesar tingkat provinsi, yakni Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) IX Lampung Tahun 2022 lalu.
Yakni ESI (esport), FORKI (karate), FPTI (panjat tebing), Gabsi (bridge), HI (hapkido), IODI (dancesport), IPSI (pencak silat), ISSI (balap sepeda), KBI (kick boxing), Kodrat (tarung derajat), MI (muaythai), PASI (atletik), PBFI (binaraga dan fitnes), PBSI (bulutangkis), PBVSI (bola voli), dan PELTI (tenis lapangan).
Juga, Perbasasi (bisbol dan sofbol), Perbasi (basket), Percasi (catur), Perkemi (kempo), Perpani (panahan), Persambi (sambo), PGSI (gulat), PJSI (judo), POBSI (biliar), PRSI (renang), PSSI (sepak bola), PSTI (sepak takraw), Pertina (tinju), PTMSI (tenis meja), TI (taekwondo), dan WI (wushu).
Selain itu biar pehobi nonton laga cabor tak kecele, ada 28 cabor yang pengurusannya di Lampung ada nun cabor bersangkutan belum diperlombakan di Porprov lalu yakni aerosport, anggar, arung jeram, balap motor/mobil, barongsai, bola tangan, boling, cricket, dayung, equestrian, futsal, gateball, golf, hockey, jetsport boating, kabbadi, kurash, layar, menembak, pentaque, rugby, selam, selancar ombak, senam, sepatu roda, ski air, squash, dan woodball.
Usai Ketum KONI Pusat Marciano Norman, menerbitkan SK 01/TF/03/2023 tentang Kepengurusan KONI Provinsi Lampung Masa Bakti 2023-2027, pengurus KONI Lampung periode itu yang bakal dikukuhkan dan dilantik 24 Mei mendatang, yakni ketum Arinal Djunaidi, ketua harian Brigjen TNI Purn Amalsyah Tarmizi, dan waketum I-V masing-masing Irham Djafar Lan Putra, Rahmat Mirzani Djausal, Dr Nanang Trenggono, Fatikhatul Khoiriyah, dan Rahmat Dharmawan.
Lalu, sekretaris umum Budhi Darmawan, wakil sekretaris I-III masing-masing Deni Ribowo, Untung Suyono, dan Adi Kurniawan. Juga, bendahara umum Lilyana, dan wakil bendahara I-III masing-masing Marindo Kurniawan, Dian Evylia Cristiani, Farliansyah. Serta, auditor internal Sumitro, wakil Asrian Hendi Caya, dan anggota Diyana.
Plus, 13 pengurus bidang, meliputi Bidang Organisasi, Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres), Bidang Pendidikan dan Penataran (Diktar), Bidang Media dan Humas, Bidang Kerja Sama dan Hubungan Antarlembaga, Bidang Hukum Olahraga, Bidang Umum dan Perlengkapan, Bidang Litbang dan Sport Science, Bidang Kesehatan, Gizi, Doping, lalu Bidang Perencanaan Program dan Anggaran, Bidang Mobilisasi Sumber Daya dan Dana Usaha, Bidang Kesejahteraan Pelaku Olahraga, Bidang Pengumpulan dan Pengelolaan Data, dan satu Sekretariat.
Sesaat seusainya, seusai resmi dikukuhkan dan dilantik nanti, selebihnya, telah punya dua pekerjaan rumah berat terkait even pesta olah raga prestasi kurun terdekat.
Yakni, multieven olah raga empat tahunan di Sumatera, Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) XI Sumatera, di Provinsi Riau Oktober 2023, menggantikan Nangroe Aceh Darussalam, tuan rumah penyelenggara terpilih sebelum, hasil rapat KONI se-Sumatera saat Porwil X Sumatera di Bengkulu Oktober 2018, lantas mengundurkan diri lantaran harus fokus persiapan sebagai salah satu tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 Aceh - Sumatera Utara.
Diketahui Porwil XI Sumatera 2023 sekaligus menjadi ajang Prakualifikasi PON XXI/2024 tersebut. Meski, berdasarkan rapat khusus KONI Pusat dan KONI Provinsi se-Sumatera di Gedung KONI Pusat, Jakarta, 24 Februari 2023 yang dipimpin oleh Wakil Ketua Umum I KONI Pusat, Mayjen TNI Purn Suwarno, menetapkan hanya ada enam cabor yang sudah dipastikan akan diperlagakan dalam Porwil XI Sumatera ini, yaitu atletik, bola voli, catur, panjat tebing, renang, dan sepakbola.
Dan, melalui usaha dan upaya agar dapat melahirkan bibit-bibit atlet berpotensi guna dibina secara berjenjang dan berkelanjutan, setelahnya selain dan atau seusai Porwil X Sumatera, maka segenap pengurus KONI Provinsi Lampung periode mendatang ini, mesti banting tulang agar atlet Lampung bisa ikut serta Kejurnas dan Pra PON hingga bagi yang lolos bisa berlaga bela Lampung di PON 2024 dan pulang kandang dengan sandang status pemenang. Semoga.
Siap-siap dilantik, dandan maksi nan sporty, Kyay ganteng dan Atu cantik. (Muzzamil)
