Helo Indonesia

Filsuf Nyentrik Datang, Profesor Doktor Jadi Halu

Annisa Egaleonita - Lain-lain
Jumat, 15 September 2023 07:04
    Bagikan  
Filsuf Nyentrik Datang, Profesor Doktor Jadi Halu

Prof. Sudjarwo

Oleh Prof Sudjarwo*

PADA waktu masa anak-anak dahulu tahun lima puluhan pada saat bulan purnama, kami biasanya bermain di halaman rumah yang pada umumnya luas. Permainan yang favorit adalah gobak sodor, jitungan, atau petak umpet. Permainan yang disebut terakhir sangat seru karena harus mencari teman yang bersembunyi.

Lucunya, ada beberapa teman laki-laki yang sangat penakut. Melihat daun pisang kering bergerak-gerak saja, dia akan keluar dari persembunyiannya dan lari terbirit-birit sambil berteriak hantu. Beberapa teman ada yang usil dengan malah berdandan bak pocong. Suasana jadi semakin riuh-rendah malam itu.

Namun, jika malam Jumat, kami sering mendapatkan intimidasi dari orangtua tak boleh keluar rumah karena banyak setan gentayangan. Jika tetap ingin bermain, kami tidak main petak umpet tetapi gobak sodor.

Baca juga: Sidang Praperadilan Polres Lamteng, Pemohon Menangis Karena Tersangka Keponakan

Setelah belajar, saya baru paham jika gejala tersebut disebut “halusinasi” dan beragam lagi modelnya yang terlalu panjang jika diuraikan di sini. Anak-anak sekarang menyebutnya “halu”. Gejala ini bisa menjangkiti orang dewasa, tidak perduli rakyat atau pejabat, ilmuwan atau dermawan.

Halusinasi juga bisa menyerang rakyat jelata, misalnya ketakutan akan naiknya harga beras, tidak bisa menyekolahkan anak, dan sebagainya. Pejabat juga bisa diserang "sang halu": takut kepada wartawan, jaksa, polisi, bahkan KPK dianggap momok

Ilmuwan atau akademisi juga ada yang takut akan kedatangan orang yang berbeda pemikiran, takut mahasiswa tidak penurut, takut diberi label ilmuwan pemberontak, dan masih banyak lagi.

Pada batas tertentu, rasa takut itu sesuatu wajar karena merupakan salah satu bentuk pertahanan ego yang dikaruniai oleh Sang Maha Pencipta. Namun menjadi tidak wajar jika tidak ada sebab untuk menjadi takut atau. Masalahnya sebab ini amat sangat subyektif, untuk masing-masing orang berbeda.

Ada pejabat akademik dengan gelar tertinggi, profesor dan waktu mahasiswa terkenal vocal dan tidak ada takutnya sama sekali. Setelah menjadi pejabat, dirinya jadi sangat penakut, halu jabatannya copot, takut dimarahi istri, takut dipecat dan masih banyak lagi.

Baca juga: Hukum Mati Jaringan Narkoba Internasional Libatkan AKP Andri Gustami

Pejabat model begini pada umumnya sangat takut akan perbedaan, takut kedatangan orang atau tamu yang bangkal mengacam kedudukannya. Padahal dia seorang penganut agama yang soleh, namun kesalehan itu ternyata hanya pada lambang atau atribut.

Setiap hari berucap “matiku…hidupku…kuserahkan kepada Mu ya Rob”, tapi tidak termasuk jabatan, istri yang cantik, hartaku, pangkat dan kedudukanku, sampai kedatangan filusuf yang nyentrik dalam berpendapat dan suka diajak debat malah bersembunyi di belakang meja kekuasaannya.

Tampaknya, penyakit halusinasi waktu kecil itu sangat melekat dalam ingatan, sehingga sampai menjelang ajal-pun masih dibawa-bawa. Orang yang menulis dengan tafsir dan logika tertentu-pun dianggap salah dan mengancam kedudukannya: halu.

Oleh sebab itu, tidak salah jika dahulu ada staf yang asli Bali mengatakan “kita tidak cukup hanya pandai, tetapi harus cerdas”. Ternyata kata cerdas itu bukan untuk otak saja tetapi lebih kepada kesiapan batin untuk menyosong anugerah pinjaman dari Tuhan kepada kita.

Baca juga: Tiga Spirit Ganjar Pranowo Majukan Indonesia Dibongkar Sejumlah Tokoh Nasional

Jabatan, harta, kedudukan, pangkat itu semua pinjaman sementara dari Sang Maha Pemilik. Kapanpun jika Beliau ingin menariknya atau memberikannya tidak ada satupun yang mampu menghalanginya.

Jadi kalau hanya kedatangan seorang umat yang diberi kelebihan dan sekaligus kekurangan ingin berbicara dengan kita, sejauh itu dalam tatakrama ketimuran adab sopan santun beretika karena niat baik, justru kita tolak.

Hal itu menunjukkan kekerdilan kita dalam memaknai perbedaan yang memang diciptakan oleh Sang Pencipta untuk mengokohkan akan kekuasaan-Nya atas apapun di muka bumi ini.

Ternyata menjadi pemimpin tidak cukup hanya pandai dengan diwakili label gelar akademik tertinggi, tetapi yang paling penting adalah “cerdas” dalam melihat segala persoalan. Tidak harus lari dari kenyataan, karena lari itu sendiri sudah menyatakan bahwa kita adalah pecundang.

Mari kita ingat akan sumpah yang kita ucapkan saat memangku jabatan sebagai pemimpin, dengan begitu kita akan tetap amanah dan istiqomah, tidak takut hanya dengan bayang-bayang, karena bisa jadi itu halusinasi, atau bisa juga fatamorgana.

* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung