Helo Indonesia

Ini Lampung Bung, No Viral No Action, Revolusi Maya

Annisa Egaleonita - Lain-lain
Selasa, 11 Juli 2023 10:12
    Bagikan  
Prof. Sudjarwo

Prof. Sudjarwo -

Oleh Prof. Sudjarwo*

DUA kali "Revolusi Maya" menghajar Provinsi Lampung secara beruntun tahun ini. Pemantiknya anak muda yang masih "bersih", tak punya pretensi keuntungan pribadi apa lagi politik buat kursi kekuasaan. Mereka bukan raja-raja olah.

Pemantik pertama pemuda asal Kabupaten Lampung Timur yang sedang sekolah di Australia, yakni TikTokers Awbimax alias Bima Yudho. Dia mengkritik infrastruktur yang jelek di Provinsi Lampung. Akibatnya, Lampung gaduh dan viral se-Indonesia dengan jalan provinsi bak kubangan kerbau.

Kedua, masih hangat, pantai kotor oleh lautan sampah di Pantai Payang Sukaraja, Bumiwaras, Kota Bandarlampung. Gara-gara Tiktokers @Pandawara, Lampung gonjang-ganjing hingga mengeroyok sampah yang dibiarkan puluhan tahun hingga mencapai 300 ton di pesisir tersebut.

Revolusi maya pertama sempat viral menasional karena direspon dengan emosional. Mungkin belajar dari pengalaman pertama, Pemkot Bandarlampung tidak mau kehilangan muka dengan langsung mengerahkan seribuan personelnya mendahului bersih-bersih di pantai tersebut.

Saya jadi teringat kata-kata Budayawan Lampung Ansori Djausal bahwa jangan-jangan Indonesia belum merdeka juga kalau tidak sejumlah anak muda menculik Soekarno ke Rengasdengklok untuk memaksanya menyusun teks proklamasi kemerdekakan Indonesia.

Baca juga: Tidak Menunggu Lama Dinas PUPR Tubaba Langsung Perbaiki Jalan Rusak

Tampaknya benar kata sejarawan, “sejarah cenderung berulang”. Setiap pergerakan apapun, khususnya di Indonesia, motornya anak muda. Bedanya kalau dahulu harus berhadap-hadapan, kini dengan kecanggihan teknologi semua bisa lebih cepat membahana dan tanpa tersentuh.

Aksi apapun itu muncul bisa jadi karena para penyelenggara pemerintahan di negeri ini senang berada di zona nyaman. Asal kursinya tidak goyang, dapurnya tetap ngebul, istri bisa belanja, pimpinan menyukai; semua dianggap selesai.

Sistem perencanaan yang seharusnya berbasis fakta dan data, diubah dengan babasis angan-angan. Akhirnya waktu menyelenggarakan musyawarah pembangunan, dianggap selesai jika itu berisi pidato dan tepuk tangan.

Padahal kalau kita mau mencermati persoalan kota ini bukan hanya pantai saja yang kotor; saat hujan dua jam saja kota ini akan banyak daerah dikepung banjir.

Ini menunjukkan sistem drainase yang tidak baik, beberapa waktu lalu ahli perencanaan kota yang dimiliki Lampung sudah mengingatkan, tapi semua dianggap angin lalu.

Baca juga: Wagub Nunik Optimistis Target Penurunan Stunting Capai 10% di Tahun 2024

Belum lagi tatakelola sampah yang masih semrawut; coba kalau kita masuk kota pagi sebelum pukul enam dari arah Bundaran Tugu Raden Inten; maka sampah ditepi jalan berjajar bagai parade.

Kondisi seperti ini sudah berlangsung lama, yang menyakitkan justru uang sampah ditilep dan dikorupsi, untuk diketahui yang mengkorup itu tidak seorangpun anak muda di sana.

Apakah ini tidak menyakitkan. Belum lagi malam hari, wilayah pinggir kota banyak listrik jalan yang mati, tentu saja ini merepotkan pihak aparat kepolisian menjaga keamanan.

Pola pengatasan masalah dengan masalah tampaknya sekarang sedang tren; namun apakah cara seperti ini harus terus dilakukan; lalu apa tugas lembaga perencanaan daerah, apa tugas kepala wilayah satuan kerja.

Namun manakala ada kritik, mereka ramai-ramai menghadapi dengan “menunjukkan kekuasaannya” dan tidak mau mendengar apa lagi melihat.

Baca juga: Wagub Nunik Optimistis Target Penurunan Stunting Capai 10% di Tahun 2024

Kasus pantai Sukaraja hendaknya dijadikan pembelajaran bagi para pejabat kota ini untuk selalu mengingat bahwa dirinya pelayan masyarakat, bukan raja-raja kecil yang harus dihormati. Sudah seharusnya koordinasi dengan antar dan inter kelembagaan satuan kerja organisasi ditinjau kembali.

Wali Kota sudah tidak seharusnya percaya begitu saja kepada laporan anak buah di lapangan, terutama yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Harus lebih banyak lagi turun ke lapangan dengan cara sidak, atau apapun namanya, sehingga masyarakat merasa kehadiran negara di tengah mereka.

Masih untung kita punya anak muda yang peduli akan negeri, terimakasih “Pandawara” jejakmu terpateri di negeri ini. Tinggal kembali kepada hati nurani para pemimpinnya masihkah mereka tidak percaya dengan yang muda yang berkarya, dibandingkan dengan yang duduk tetapi makan gaji buta.

Ternyata “bersih” baru menjadi slogan belum menjadi tindakan; sumbernya adalah pada diri kita sendiri yaitu “bersihnya hati”. Tuhan sudah memperingantkan melalui firmannya manakala segumpal organ yang bernama hati ini bersih, maka insyaALLAH tindakan kitapun akan bersih dari segala anasir syaiton.

Semoga ini juga menjadi pembelajaran bagi kita semua bahwa memilih pemimpin itu tidak cukup hanya banyak uangnya, banyak hartanya, banyak janjinya; tetapi yang utama adalah banyak kerjanya untuk melayani masyarakatnya. Ada anekdot, "Ini Lampung Bung, Lemah Sedikit Diolah Kawan". Bravo Pandawara

* Pemerhati Masalah Sosial dan Pendidikan.