HELOINDONESIA.COM - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak agar seluruh Negara di dunia untuk bersiap menghadapi pandemi di masa yang akan datang. Pasalnya, keadaan darurat kesehatan di masa depan bisa lebih buruk daripada pandemi COVID-19.
Peringatan direktur jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus muncul beberapa minggu setelah organisasi tersebut secara resmi mengakhiri status darurat kesehatan global COVID. Selama pertemuan Majelis Kesehatan Dunia di Jenewa, Swiss, Tedros mengatakan COVID masih menjadi ancaman, tetapi bukan satu-satunya yang mungkin harus kita hadapi.
"Ancaman munculnya varian lain yang menyebabkan gelombang baru penyakit dan kematian tetap ada, dan ancaman munculnya patogen lain dengan potensi yang lebih mematikan tetap ada," katanya dilansir dari CbsNews.
Baca juga: Balita Penderita Kerusakan Organ Hati, Dapat Bantuan dari Baznas Tubaba
Lebih dari 6,9 juta orang di seluruh dunia telah meninggal karena COVID, menurut penghitungan WHO. Tedros mencatat bahwa pandemi COVID menunjukkan pada dasarnya setiap orang di planet ini perlu perlindungan kesehatan yang lebih baik lagi.
194 negara anggota WHO sedang mengerjakan kesepakatan pandemi global, dengan negosiasi akan dilanjutkan tahun depan. Tedros mengatakan ini adalah inisiatif penting untuk menjaga dunia lebih aman.
Sejak 2009, para ilmuwan Amerika telah menemukan lebih dari 900 virus baru. Salah satu ancaman potensial datang dari perambahan manusia pada habitat alami kelelawar. Para ahli memperingatkan bahwa pertemuan seperti itu meningkatkan risiko penularan patogen dari kelelawar ke manusia, yang berpotensi memicu pandemi di masa depan.
WHO telah mendesak fokus pada penelitian beberapa penyakit menular tertentu. Organisasi mencatat patogen ini, termasuk virus Ebola, Marburg, demam Lassa, Nipah dan Zika, menimbulkan kesehatan masyarakat terbesar karena potensi epidemi mereka.
