HELOINDONESIA.COM - Mengagetkan. Seorang pasien tumor otak bernama Epiyana warga Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, gagal menjalani operasi gegara salah satu alat di RS Santosa Bandung, rusak.
Akibatnya, pasien yang sudah menjalani pembiusan dan konon kepalanya sudah dibor tetapi karena alat rusak maka operasi terpaksa dihentikan. Tumor yang bersarang di otaknya pun batal diangkat.
Dikutip dari koranmandala.com, Epiyana tampak terbaring lemas di tempat tidur di ruangan rawat inap nomor 771 lantai 7.
Saat didatangi, kondisinya masih setengah sadar karena efek obat bius. Tubuh Epiyana pun dibalut dengan selimut berwarna coklat yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
Kepala Epiyana tampak gundul. Ada bekas jahitan karena pembatalan operasi. Luka jahitan kepala bagian kanan di atas daun telinga Epiyana itu pun dibalut dengan perban putih.
Salah seorang keluarga Epiyana, Regi Tegar Ramadan, ibunya sudah siap dioperasi. Pembiusan dilakukan kemudian kepalanya sudah dibuka untuk mengambil tumor di otaknya.
Tetapi keluarga menerima kabar bahwa operasi dibatalkan karena mesin yang dipergunakan untuk operasi itu rusak. "Kami pun panik karena operasi baru akan dilakukan sebulan mendatang," katanya.
Lebih khawatir lagi karena dia mendengar dari petugas rumah sakit, bahwa pasien diperbolehkan pula dulu, untuk kembali sebulan kemudian.
OPERASI MENDADAK DIBATALKAN
Tepat hari Selasa 23 Mei 2023, akhirnya Epiyana dilakukan tindakan operasi untuk mengangkat tumor yang ada di otaknya. Sekitar pukul 07.00 WIB, Epiyana masuk ruangan bedah lalu pada pukul 08.00 WIB tim dokter memberikan informasi bahwa pasien akan dioperasi.
Keluarga pun berdoa untuk kelancaran tindakan operasi terhadap Epiyana. Sekitar setengah jam kemudian, pihak keluarga diinformasikan bahwa tindakan operasi dibatalkan karena ada kerusakan pada salah satu alat operasi.
Mendengar kabar itu, Regi panik karena khawatir dengan kondisi ibunya. Setelah keadaan tenang, Regi memutuskan untuk meminta penjelasan alasan apa yang menyebabkan pembatalan operasi.
Keluarga pun heran karena RS Santosa yang merupakan salah satu rumah sakit terbaik tetapi tidak memiliki cadangan alat untuk operasi. Selain dari ketersediaan alat, keluarga tambah curiga karena kepala Epiyana sudah dilakukan pengeboran.
Regi hanya bisa pasrah menghadapi kondisi tersebut. "Soalnya kepalanya udah dibuka sampai tulang itu. Yang saya pertanyakan kenapa tidak ada alat cadangan buat mengambil tumor ibu. Saya tidak lihat bukti alat atau fisik yang dinyatakan rusak," ucapnya.
Epiyana pun akhirnya kembali ruangan rawat inap nomor 771 lantai 7 sekitar pukul 12.00 WIB. Tindakan itu diambil oleh tim dokter karena kondisi Epiyana sudah membaik.
Masih dikutip dari koranmandala.com, belum ada penjelasan terkait kebenaran kerusakan alat operasi. Pihak Humas RS Santosa Kebon Jati sulit dihubungi. Bererdasarkan pengakuan pegawai costumer service, pihak humas sedang cuti dan akan kembali bekerja besok.
"Kebetulan bagian humas sedang cuti, kalau berkenan besok kembali lagi ke sini," begitu kata pegawai bagian customer service.
Ketika bertanya nomor ponsel Direktur RS Santosa, pegawai costumer service tidak memberikan nomor ponsel dengan alasan prosedur dari atasan.
Ia hanya menyarankan untuk menempuh jalur prosedural dengan cara berkirim surat ke pihak RS Santosa Kebon Jati.
"Pakai jalur prosedur saja, nanti surat dikasih ke sini, saya sampaikan ke atasan. Kalau disposisi surat sudah ada akan dihubungi," begitu penjelasannya.
REKAMAN KELJUARGA DENGAN DOKTER
Beberapa jam berlalu, redaksi koranmandala.com menerima rekaman percakapan keluarga dengan dokter terkait alasan pembatalan operasi. Diketahui, dokter tersebut bernama dr. Firman Priguna Tjahjono, Sp.BS, M.Kes.
Berdasarkan rekaman percakapan antar dokter yang diterima, dokter menyatakan alat operasi yang digunakan untuk mengangkat tumor Epiyana hanya satu.
"Iya alatnya cuman satu ngga ada lagi. Sudah diperiksa (dilakukan tindakan) cuman saat itu pas lagi dipakai tiba-tiba mati, kan kemarin saya operasi pakai itu," kata dokter berdasarkan rekaman yang diterima.
Namun, pihak keluarga tidak puas dengan jawaban tersebut karena khawatir dengan keberlangsungan kondisi kesehatan Epiyana usai operasi dibatalkan karena kerusakan alat. Mengingat, tulang tengkorak Epiyana sudah dilakukan pengeboran.
Dokter pun menjelaskan, prosedur operasi pengangkatan tumor ini memang harus dilakukan pengeboran tulang tengkorak.
"Artinya meski pun diteruskan operasi ya akan terbuka tulangnya. Insyaallah tidak akan ada perubahan seperti sebelum dilakukan operasi," kata dokter menjelaskan.
Dokter mengaku ketika alat tersebut mengalami kerusakan, ia langsung meminta asistennya untuk memperbaikinya. Akan tetapi, untuk memperbaiki alat tersebut membutuhkan waktu dan tidak mungkin selesai dalam waktu dekat.
"Alatnya juga langsung dibawa oleh asisten untuk diperbaiki. Cuman kan nggak mungkin ditungguin, ibunya dalam kondisi dibius kan ngga mungkin ditungguin nanti mau dibius berapa jam," terang dokter
Dokter pun memberikan penjelasan terkait kondisi pasien usai pembatalan operasi, seharusnya Epiyana baik-baik meski pun tulang tengkoraknya sudah dibor. Dokter pun akan memberikan obat untuk meredakan rasa nyeri.
"Sekarang kalau pun jadi dioperasi sama saja tulang (tengkorak) dibuka juga. Seharusnya secara teori nggak bakal ada apa-apa. Jadi akan kembali seperti sebelum dibius tadi pagi. Cuman kan dokter nggak mungkin memprediksi masa depan," bebernya.
Dokter pun memastikan dirinya akan kembali mengecek kondisi pasien keesokan harinya. Hal itu dilakukan untuk memastikan kondisi pasien apakah boleh pulang dalam waktu dekat ini atau tidak.
"Besok saya lihat kondisi seperti apa, kuat atau nggak, kalau besok kuat langsung saya ganti dengan obat minum. Infus dicabut, hari Kamis dicek lagi, kalau kondisi sudah kembali seperti sebelum dioperasi boleh pulang. Besok saya akan bilang bahwa tumornya belum terangkat," tambahnya.
DISURUH PULANG
Menurut keluarga pasien, ada petugas yang menyuruh pulang dulu karena operasi akan dilakukan sebulan mendatang.
Sedangkan dokter yang menangani, mengatakan belum bisa memastikan kapan waktu operasi ulang. Sebab, pasien harus menempuh prosedur dari awal sebelum pembatalan operasi ini tetapi dirinya yakin Epiyana akan diprioritaskan.
"Secepatnya, sebisanya karena ada keterbatasan juga. Antrean itu kan tercipta karena operasinya banyak di sini. Jadi memang jeleknya itu memang harus dari nol lagi. Tapi Insyaallah nanti akan diperhatikan supaya bahwa ini (pasien) itu gara-gara alatnya rusak. Jadi akan diprioritaskan lah," ujar dokter.
"Nanti langsung kontrol ke poliklinik, cabut jahitan yang lama. Kemudian, dijadwalkan ulang," tambahnya.
Kendati begitu, ia memastikan pembatalan operasi ini murni karena kerusakan alat, bukan dikarenakan hal-hal lainnya. Sebab, dirinya juga tidak ingin kendala tersebut terjadi ketika hendak melakukan tindakan operasi.
"Enggak ada yang ditutup-tutupi di sini. Artinya ngga ada yang disembunyikan. Apa yang saya hadapi ya saya kasih tahu gitu. Ngga yang kepengen kayak gini, dokter juga ngga mau. Cuman kan musibah itu kan bisa terjadi kapan saja dan sama siapa saja," kata dokter.
Terpisah, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat, dr. Raden Vini Adiani Dewi mengaku pihaknya tidak mengetahui ketersediaan alat-alat di sebuah rumah sakit. Sebab, ketersediaan alat merupakan ranah internal sebuah rumah sakit.
"Itu internal, kami tidak punya informasi tersebut. Detail seperti itu kami tidak punya datanya," kata Vini melalui pesan singkatnya. (sumber: koranmendala.com)