LAMPUNG,HELOINDONESIA.COM -- Nurhayati (35) dengan getir menceritakan nasibnya yang telah bekerja 15 tahun namun tak sepeserpun membawa pulang jerih payahnya bekerja di Arab Saudi. Dirinya bak diperbudak sejak usia 20 tahun.
Keluarga yang melepas kepergiannya untuk mengubah nasib pada tahun 2005 berharap ada perubahan nasib. Namun, tanpa kabar sampai akhirnya pulang tanpa membawa apa-apa sebagai asisten rumah tangga.
Menurut Sarip, orangtua Nurhayati, yang tinggal di Desa Sriwangi, Kecamatan Wayjepara, tahun 2005, puterinya terbang ke Arab Saudi bekerja sebagai pembantu dan rutin memberikan kabar selama dua tahun.
Namun, sejak akhir 2007, keluarga tak lagi dapat kabar dari puterinya. Keluarga sudah menghubungi berbagai pihak termasuk perusahaan yang memberangkatkan puterinya. Tapi upaya itu tak membuahkan hasil.
"Kami pihak keluarga sampai pasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah,SWT," ujar Sarip berlinang air mata kepada Helo Indonesia Lampung, Minggu (14/1/2024).
Pada 2022 pihak keluarga dikejutkan kabar dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Riyadh Arab Saudi yang menerangkan jika Nurhayati sudah satu tahun berada di KBRI. Dan pada 2023, PMI itu diterbangkan ke tanah air dan tiba di kampung halamannya.
Namun nahas, tanpa alasan jelas, PMI asal Lampung Timur itu tak pernah menerima selama 15 tahun bekerja sebagai asisten rumah tangga.
"Sebagai orangtua saya bersyukur anak saya bisa pulang. Tapi kami sangat sedih anak saya 15 tahun tak digaji," ujar Sarip.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Garda Buruh Migran Indonesia, Imam Subali mengatakan pihaknya menghubungi KBRI di Riyadh agar membantu menuntaskan masalah yang menimpa Nurhayati.
"Dari awal saya dan tim menghubungi KBRI untuk turun tangan terutama masalah gaji yang 15 tahun tak dibayar," ujar Imam.
Mendapat desakan tersebut, pihak KBRI saat itu berjanji akan menyelesaikan masalah tersebut terutama soal gaji. Tapi hingga saat ini korban belum menerima haknya.
"KBRI cuma janji-janji manis. Sampai detik ini korban tak pernah menerima haknya,"tegas Imam.
Merasa terus dijanjikan, Imam Subali lalu menghubungi pihak majikan tempat korban bekerja. Pihak majikan menyatakan jika semua hak asisten rumah tangganya itu sudah dibayarkan.
"Pihak majikan menyatakan jika hak korban sudah dibayarkan. Tapi kenyatannya mana," kata dia.
Karena masalah ini tak kunjung selesai, Imam Subali akan terus memperjuangkan hak korban.
"Sampai kapanpun saya akan terus berjuang sampai hak-hak korban didapat. Saya mohon negara hadir memberikan perlindungan bagi rakyatnya," pungkas Imam.
(Khairuddin)
