Helo Indonesia

Pemalakan Truk Batu Bara Diduga Mulai Digulung Polda Lampung

Herman Batin Mangku - Nasional -> Hukum & Kriminal
Kamis, 4 Juli 2024 14:40
    Bagikan  
BATU BARA
Helo Lampung

BATU BARA - Video amatir diduga penangkapan para pemalak di RM Obara (Foto Kolase Helo)

LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM -- Polda Lampung agaknya bergerak cepat menggulung makin maraknya dugaan pungutan liar (pungli) truk baru bara yang bermuatan dan berukuran melebihi ketentuan di Jalan Lintas Tengah (Jalinteng) Sumatera di Provinsi Lampung.

Beredar, video dengan durasi 0,25 detik, menarasikan sejumlah aparat kepolisian mengamankan pemalakkan di depan Rumah Makan (RM) Obara, Desa Bandarkagungan Raya, Kecamatan Abung Selatan, Kabupaten Lampung Utara, Rabu (3/6/2024), pukul 18.00 WIB.

Narasi video singkat tersebut: Diringkus, pemalakan (di) RM Obara langsung Kapolres... 

Personel kepolisian mengamankan dan memeriksa enam anggota ormas di Ruang Kaur Bink Polres Lampung Utara. Dari mereka, aparat kepolisian mengamankan barang bukti berupa uang dan catatan pembukuan setoran sopir truk baru bara.

Aktivis Gunawan Pharrikesit mengapresiasi langkah Polda Lampung menindak tegas perbuatan pungli sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Para sopir truk banyak yang mengeluhkan pemalakkan.

Sepanjang jalinteng dari Kabupaten Waykanan, Lampung Utara, hingga Lampung Tengah, diperkirakan, ada 10 pos pemungutan truk baru bara. Informasi yang diperoleh Helo Indonesia, ada tiga pos lagi siap-siap buka.

Informasi yang dikumpulkan Helo Lampung, ketiga pos setoran yang rencana akan dibuka atas nama perusahaan kerjasama dengan pengusaha truk tersebut di Terbanggi Besar, Tanjungratu, Abungkunang.

Belum lagi, truk-truk itu wajib setoran di jembatan yang sedang diperbaiki di Way Sabu, Kabupaten Lampung Utara. Rencana lainnya, ada yang hendak membuka stockfile dekat Bukitkemuning, Kabupaten Lampung Utara.

Sebelumnya, baru beberapa minggu lalu, muncul dua pos setoran di RM Obara (Kabupaten Lampung Utara) dan tugu perbatasan (Kabupaten Lampung Tengah-Lampung Utara).

Jika ditotal dari perbatasan dengan Sumatera Selatan sampai Kota Bandar Lampung, bakal ada 13 pos setoran yang rata-rata Rp100 ribu hingga Rp400 ribu per truk yang sehari semalam bisa melintas ratusan truk.

Truk-truk itu tak ada yang memuat 10 ton sesuai peraturan yang ada, rata-rata antara 20 sampai 40 ton sekali angkut yang akhirnya merusak jalan dan kerap bikin celaka warga.

Polres Lampung Utara dan Waykanan pernah merazia truk-truk itu, tapi setelah itu lancar jaya lagi. Bukannya semakin tertib, truk-truk angkutan batu bara kapasitas, over dimension/overloading (ODOL), makin tak terkendali.

Padahal, Undang-Undang (UU) tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan menyebutkan kalau ada kendaraan tambang yang rutin seperti itu harusnya lewat jalan khusus tidak menggunakan jalan umum.

Ketua Komisi V DPR RI Lasarus, pada rapat dengar pendapat bersama Kementerian PUPR dan Kementerian Perhubungan, Rabu (15/2/2023), menegaskan harus ada jalan khusus agar bisa dilewati oleh kendaraan pengangkut batu bara.

Pemprov Lampung bahkan telah mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Lampung No. 045-2/02.08/V.13/2022 tentang Tata Cara Pengangkutan Barang dan Batu Bara menetapkan angkutan baru bara yang diijinkan melintas provinsi ini 10 ton per truk.

Namun, semua stakeholder bungkam. Tak jelas alasan bungkamnya. Akibatnya, jalan umum semakin rusak dan membahayakan pengendara lainnya. Selamat Hari ke-78 Bhayangkara Polri. (HBM)

 -